Senin, 20 Februari 2017

Premi Pendidikan Manulife Sebagai Salah Satu Solusi Mengatasi Mahalnya Uang Sekolah Anak

Hari ini semesta sedang ingin mengajarkan suatu yang baru lagi pada saya. Sebenarnya sih ngga baru banget, hanya mendapatkan pemahaman yang lebih dibandingkan sebelumnya. Dalam rentang waktu yang bersamaan ada tema yang sama dibahas antara saya dengan adik, dengan seorang sahabat dan perbincangan umum di WA grup. Dengan adik memperbincangkan program barunya Manulife (adik saya seorang agen Manulife), dengan sahabat memperbincangkan jenis-jenis asuransi yang kemudian mengkerucut ke asuransi pendidikan dan di WAG mengenai para ortu yang sedang dalam pergumulan memasukkan anandanya ke sekolah dasar. Biayanya bikin jantungan ya hehehe sampai ke puluhan juta, padahal baru biaya pendaftaran dan biaya masuk. Bahkan ada yang curhat biaya ini tidak bisa dicicil. Masuk sekolahnya masih tengah tahun, tapi awal tahun sudah banyak sekolah favorit (di kota masing-masing yang sudah tutup pendaftaran). Fiuh,,,belum kebayang gimana nanti jaman saya melalui hal ini. Kayanya biaya saya S2 kok udah kalah sama krucils yang mau masuk SD ini x)))

Satu hal yang saya syukuri adalah sejak awal menikah (2012), saya dan suami memutuskan mengambil premi untuk pendidikan, jadi tadi sekalian cek-cek ombak gimana situasinya, sepertinya sih masih aman ya untuk perkiraan 7 tahun ke depan hehehe. Bagi rekans yang berminat mengambil premi pendidikan, dicoba dulu saja sekarang, mumpung Manulife sedang ada program cuma bayar 5x, ada bonus loyalitas 40% setiap per 5 tahun, jaminan premi kembali (nilai tunai yg dijamin), ada nilai polis yg terbentuk dan mendapatkan proteksi jiwa sebesar 5x premi tahunan yg dibayar. Menarik kan? Ngga usah takut, selama untuk kebaikan keluarga, pasti adaaa aja jalannya, kaya saya sekarang, anaknya belum ada udah nyicil dan puji Tuhan masih tercukupi rajin mbayarnya. Ada aja kok jalannya meskipun kadang kalau dipikir ngga akan cukup. Karena, kalau ga dimulai dari sekarang kapan lagi? Anak juga masih akan masuk SMP, SMA, kuliah kan? Kalau mau dibantu dan mau nanya-nanya untuk hitungan polisnya, bisa mampir isi ke sini. Nanti di kolom terakhir bisa diisi infonya dapet dari blog receh ini ya x)))
 Ini salah satu perhitungan perkiraannya mulai anak usia 1 tahun. Anak umur berapa aja mulai masuknya bisa kok dibuat perhitungannya, asal belum 30 tahun. Tanda biru itu tadi dikasih pas saya nanya tentang pengambilan. Jadi, berdasarkan contoh di atas, tahun ke 20 kalau mau berhenti yang didapet 6jt+2,636+191jt. Tapi sayang ya kalau berhenti, kan serunya anak tetep bisa dapet polis asuransi jiwa sampai usia 70 tahun. Ya, itung-itung warisan kan ya? Bonus 40%nya ya tergantung pengennya nabung berapa, berdasarkan kesepakatan saja sama pasangan kan ya.
Ps : selain tentang biaya masuk sekolah, di WAG tadi dapet info juga kalau di Solo tidak mewajibkan anak bisa baca waktu masuk SD, keren ya, jadi ga ada paksaan ke anak dan ga ada tes aneh-aneh yang mungkiiinnn malah bisa bikin anak tertekan. Pindah ke Solo aja apa ya? Heeee, ngareppp, biar bisa keluar dari kota antah berantah ini >.<

Minggu, 19 Februari 2017

Menakar Jiwa Mantan Teroris Melalui Tes Davido CHad (Sarlito Wirawan Sarwono, 2013)

Buku ini belinya lewat www.penerbitsalemba.com yang cs onlinenya ramah banget karena saya sempat kesulitan memfinalisasi order. Ramah cepet lagi,hehehe malah promo penerbitnya ya. Harganya Rp. 11.353 karena diskon 75% dari Rp. 52.900. Harusnya pada saat itu borong banyak ya, lumayan bisa dijual lagi x)))
Mendapatkan buku ini di awal tahun merupakan hal yang menyenangkan bagi saya. Dikarenakan sejak setahun terakhir saya sedang merasa tertarik dengan psikoanalisis. Kemudian menemukan tulisan alm. Prof. Sarlito yang mengatakan bahwa "saat ini dunia psikologi di Indonesia mudah sekali melenceng dari pakem bahea psikologi adalah ilmu yang berasal dari ilmu-ilmu sebelumnya, yaitu filsafat, ilmu sosial, ilmu faal, kedokteran dan matematika, sehingga kita mudah sekali tertarik kepada pseudo psychnology seperti ilmu otak tengah atau ilmu finger printing yang mengasumsikan psikolog bisa mengetahui dan mengubah kepribadian orang dalam waktu cepat" (dalam Revolusi Mental : Makna dan Realisasi, 2015). Di daftar acuan saya menemukan judul buku ini yang kemudian akhirnya semakin membuat saya sedikit bersemangat belajar lagi. Kenapa sedikit? Karena di sini saya belajar sendiri, coba di Yogyakarta, banyak yang bisa diajak diskusi dan ngajari saya hehehe alesan ya.

Di dalam buku ini, diceritakan bahwa Prof. Sarlito memulai studinya mengenai psikologi teroris (okei,saya saja baru denger ada psikologi jurusan ini,apalah saya yang masih cetek ini) pada tahun 2005. Bermula saat pembuat film dokumenter Daniel Rudy Haryanto memberikan kepada beliau 14 rol kaset video yang berisikan wawancara penuh dengan empat pengebom Bali pertama. Hasil analisis yang dilakukannya bersama tim menunjukkan tidak ada indikasi gangguan patologis pada semua pelaku, tidak ada juga gejala neurotik maupun faktor sosial-ekonomi lainnya. Mereka sehat secara mental seperti orang normal lainnya. Hasil inilah yang kemudian berlanjut pada penelitian lainnya di tahun 2007 yang menggunakan sampel lebih besar (47 subyek mantan teroris); tahun 2009 diperluas ke sebuah program deradikalisasi eksperimental; 2011 studi mantan teroris mendakwahkan Islam damai. Pada saat di puncak eksperimen ketiga, Prof. Sarlito bertemu Dr. Roseline Davido seorang psikolog klinis Perancis dan pembuat tes gambar CHad (Childhood Hand that Disturbs) sebuah teknik proyektif dari tes kepribadian berdasarkan teori psikoanalisis. Dalam komunikasi jarak jauh dengan memberikan data-data yang dibutuhkan, Dr. Davido dapat menunjukkan perbedaan signifikan antara gambar CHaD mantan teroris dan gambar CHad dari mahasiswa yg digunakan sebagai kelompok kontrol. Secara psikoanalisis, trauma masa kanak-kanak (kebanyakan seksual) mendorong seseorang melakukan tindak kekerasan ketika mereka tumbuh dewasa. Dalam lingkungan yang relevan, orang-orang ini akan menjadi kejam dan ketika bertemu dengan jaringan radikal, secara otomatis ia akan menjadi radikal. Hasil analisa inilah yang memperkuat Prof. Sarlito meneruskan studinya kemudian diiringi dengan tes gambar CHaD. Bahkan tes ini dapat digunakan sebagai deteksi dini kecenderungan kekerasan tidak hanya di ranah terorisme tetapi secara umum seperti kriminal dan kekerasan dalam rumah tangga.

Secara singkat di bab 2 dituliskan mengenai bagaimana individu bisa menjadi teroris. Teknik pendekatan yang digunakan kaum fundamentalis untuk merekrut anggotanya adalah dengan menghantam krisis identitasnya. Mereka diajak meninggalkan identitas pribadinya dan mengubahnya dengan identitas kelompok, yang dalam proses psikologi disebut "depersonalisasi". Beberapa mantan teroris yang pernah menjadi narapidana didapati menjadi lebih tenang dan mencari kehidupan bahagia. Namun, ada juga yang tetap pada ideologi radikalnya bahkan dapat mempengaruhi beberapa personel di dalam penjara untuk menjadi lebih radikal serta melakukan kegiatan ilegal untuk melancarkan aksinya. Prof. Sarlito kemudian menerapkan tes CHad kepada mantan teroris yang menjadi subjek penelitiannya disertai dengan keyakinan bahwa teknik ini sangat berguna secara klinis di Indonesia. Prinsip teknik proyektif adalah apa yang tersembunyi di alam ketidaksadaran - yang tidak bisa diungkap dengan cara psikodiagnostik dan/atau prosedur lainnya dapat dilihat ketika psikolog menerapkan rangsangan. Dengan demikian, subjek dapat mengungkapkan prrasaan, trauma, dll yang terdalam. Salah satu ilmuwan psikologi adalah Sigmund Freud (1856-1939) yang sangat memperhatikan sesuatu yang disebutnya "alam ketidaksadaran" dan mengajarkan psikoanalisis yang menjunjung tinggi pentingnya alam ketidaksadaran pada pusat kepribadian manusia. Pada masanya, aliran ini mendapat banyak tentangan dari ilmuwan lainnya karena berisi banyak informasi dan hipotesis yang tidak bisa dibuktikan dan berbau spiritual atau mistis. Bagi Prof. Sarlito sendiri, beliau dapat menggunakan tes proyeksi untuk menuntut psikoterapi dan mengeksplorasi lebih mendalam terhadap fungsi psikis pasien. 

Tes CHad, menurut R. Davido (1994) berisi tiga gambar yang akan dilakukan, yaitu gambar masa kecil (C), gambar tangan (H) dan gambar tangan yang mengganggu (D). Hipotesis yang didapatkan dari penelitian 10 kasus mantan teroris melalui tes CHaD salah satunya adalah para mantan teroris tersebut tidak dapat mengetahui dan/atau tidak bisa menggunakan beberapa tahun kebahagiaan masa kecil untuk membangun psikologinya. Salah satu yang dibahas khusus disertai dengan gambar tes CHaD dan petikan wawancara di buku ini adalah subjek yang bernama Abu Bukan Baasir (bab 8). Sangat menarik dimana ternyata subjek ini berasal dari keluarga menengah berpendidikan tinggi, tetapi ia menjadi radikal karena ia adalah satu-satunya anak (di antara kelima saudaranya) yang mendapatkan siksaan dari ayahnya. Kebencian, marah, takut membuatnya bergabung dengan organisasi radikal untuk menunjukkan dirinya sebagai laki-laki yang kuat dan percaya diri. Saat ini,kepribadiannya masih rapuh, meskipun agresivitasnya tidak lagi tinggi, tetapi dengan pekerjaannya sekarang membuatnya menjadi pribadi yang lebih tenang. Dikatakan oleh Prof. Sarlito bahwa kepribadian yang rapuh dapat menjadi kuat sepanjang ada sesuatu yang mendukungnya antara lain keluarga, pekerjaan, sistem, dll.
Bab 8. Halaman 72-73
Bagian yang menarik mengenai efektivitas tes CHaD ini adalah pada saat para subjek menolak penyerahan jejak bukti apapun terutama yang tertulis. Namun, pada akhirnya mereka tidak menolak pendekatan menggunakan tes CHaD ini dikarenakan tes ini : menggambar tetapi tidak menulis. Tes CHad tidak membawa resep pengukuran melainkan arahan terapeutik. Para psikolog harus terus bertanya dan memperluas wilayah penyelidikannya. Untuk kasus teroris perlu diperluas sample.nya dan sangat dibutuhkan partisipasi beberapa institusi pemerintahan tertentu seperti Kementrian Sosial, Kementrian Agama, serta Kementrian Pendidikan dan Budaya. Tes CHad, bagi Prof. Sarlito, merupakan alat yang bagus di dunia hukum sehingga psikolog dapat masuk lebih jauh, pada klinis anak tes CHaD dapat mengungkap trauma yang menghilang dalam ketidak sadaran dan memulai suatu terapi.

Selama membaca buku ini saya deg-degan membayangkan bagaimana prosesnya, keseruannya menghadapi defensifnya para subjek, bagaimana proses bolak-balik mendapatkan data yang dibutuhkan untuk mempertajam analisa serta bagaimana hipotesa terbentuk. Sangat disayangkan karena penelitian setelah tahun 2011 tidak mendapatkan sponsor pendanaan lebih lanjut mengingat hasilnya tentu saja tampaknya akan sangat berguna bagi Indonesia. Dimana situasi Indonesia saat ini yang sangat sensitif dimana orang mudah sekali terpicu dan digerakkan secara massive oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab, kekerasan verbal maupun fisik bahkan di dunia maya orang sangat mudah terpengaruh berita hoax. Rasa penasaran lain yang muncul adalah, saat ini siapakah penerus alm. Prof. Sarlito di ranah ini. Sangat-sangat menarik untuk dipelajari dan diterapkan di kasus-kasus individual. 

Dr. Roseline D. Davido sendiri akan menjadi pemateri workshop yang diadakan oleh ASIAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION di Malang pada tanggal 21 April 2017. Menarik dan menyebalkan ya bagaimana momen-momen yang menarik minat kita datang di saat hampir bersamaan, tetapi kita belum tentu bisa mencapainya? Hehehe iya, saya agak curhat, di tengah keinginan untuk belajar sepertinya (sepertinya loh ya) saya belum bisa mengambil momentum bertemu dengan Dr. Roseline. Masih mendoakan dan meminta sama Gusti Yesus semoga dibukakan jalan ke arah sana. Biar sekalian belajar sekalian pulang gitu hihihi, ada udang di balik rempeyek ya. Buku ini adalah satu dari beberapa buku yang ada mengenai tes CHaD, semoga bisa habis sebelum pertengahan tahun ini ya sebagai target pembelajaran mandiri saya di kota antah berantah ini >.< atau ada yang mau jadi subjek pembelajaran saya? :D tunggu pinter dulu, semoga semangat belajarnya ngga luntur di tengah jalan ya.

Rabu, 26 Oktober 2016

Buku Bantal/Soft Book/Quite Book/Bussy Book

Buku Bantal/Soft Book/Quite Book/Bussy Book adalah beberapa sebutan buku yang diperuntukkan bagi para batita. Disebut bantal karena bentuknya seperti bantal, soft karena memang lembut sehingga aman, quite dan bussy karena meskipun ada sensasi kresek2nya dan beberapa ditambah gemerincing atau teether buku ini bisa membuat batita tenang dan sibuk sendiri. Biasanya buku ini terbuat dari bahan yang aman untuk bayi karena tentu saja bayi selain meremas akan memasukkan sebagian dari buku tersebut ke mulutnya. 

Saya pribadi baru beberapa hari terakhir mencari tentang buku ini sebagai hadiah untuk keponakan saya. Ada berbagai versi tentang warna, angka, hewan, keagamaan (versi muslim lebih mudah dan banyak ditemui), bentuk, kendaraan, dan lain sebagainya. Tujuannya selain agar bayi akrab dengan warna, rasa, tekstur adalah agar pendamping bisa menemukan bahan bercerita atau sekedar ngobrol dengan bayi untuk merangsang inderanya.

Ini buku bantal yang saya pilihkan untuk Alin keponakan saya. Hanya terdiri dari empat lembar dan 8 halaman. Ada pencetan yang menimbulkan bunyi berdecit di lembar pertamanya dan ada banyak pita yang dikatakan dapat menunjang tumbuh kembang taktil bayi. Yah lumayan membantu karena sekarang Alin sedang senang-senangnya memainkan dan mreteli talinya guling. 

Lembar kedua dan keempat buku ini didalamnya berisi srjenis plastik yang apabila diremas akan menimbulkan bunyi kemresek dan agak lebih tebal sehingga menimbulkan sensasi berbeda saat bayi memegangnya. Buku ini sudah melalui tahapan pencucian, sendirian di dalam mesin cuci, tanpa dilapisi bahan yang lain dia bisa bertahan dan benang-benangnya tidak semrawut. Yah bisa dikatakan tetap seperti bentuk semula dimana kainnyapun tidak menjadi kusut. 

Setelah menggoogling ternyata banyak sekali yang memberikan tutorial pembuatan buku ini. Sebagian besar menggunakan kain flanel sih, yang saya rasa akan lebih cocok untuk anak di atas 5 tahun yang sudah tidak memasukkan benda ke dalam mulut. Beberapa situs luar negeri juga menjualnya dalam bentuk lembaran kain sehingga kita bisa menjahitnya sendiri ke dalam bentuk buku. Hal ini membuat saya ingin mencobanya hihihi,paling tidak mengasah kemampuan menjahit dan harus kreatif dalam merancang penempatan pola yang menarik bagi anak. Ya minimal persiapan buat anak sendiri nantinya. Semoga bukan sekedar angan dan bisa direalisasikan ya. Bagi saya, pencipta buku jenis ini sangatlah kreatif dan saya selalu kagum dengan mereka yang kreatifitasnya bisa memudahkan banyak orang. Buku ini juga sangat-sangat memudahkan untuk dijadikan alternatif kado bagi batita, mengingat kadang suka bingung kan ya mau ngadoin apa untuk para krucils ini. Tidak hanya awet tetapi bisa berguna sekali untuk pembelajaran. Paket lengkap jadi ngga rugi belinya :D

Kamis, 28 April 2016

Makan di Batam : Angkringan Jogja

Sebagai alumninya Ngayogyakarto, apalah saya ini kalau ngga demen sama angkringan, solusinya anak kos ketika malem dan lapar melanda tapi ngga pengen ke burjo karena porsi angkringan yang imut. Jadi sadar kenapa waktu di Jogja badannya melar,nasi kucingnya sih sebungkus dua bungkus sudah cukup, ubo rampe alias lauk pendampingnya itu yang buanyak hehehe. Dulu awal-awal di Batam Center pada ngarahinnya ke angkringan komplek perumahan Duta Mas, tapi kembali lagi ke masalah selera dan rasa dan harga akhirnya saya sama suami cuma sekali aja jajan di situ. Selalu rame sih tempatnya,tapi ya kami punya pilihan lain yang lebih cucoook.

Kemudian nemu di komplek ruko Bida Asri II sederetan sama Kimia Farma, depannya fotocopyan,pokonya daerah depannya Universitas Batam (Uniba). Tempatnya kecil dan gelap makanya belum pernah moto.in lagi, agak malu pakai flash (yeay saya punya malu ahahaha). Selain jual angkringan dia juga jual soto ayam,enak seger dan bening kuahnya. Pas pertama nemu ini,hampir setiap hari ke situ,sampe penjualnya hapal, sama-sama dari Jawa kalau ngobrol ya pakai bahasa Jawa,ditimpali sama suami saya yang sok Jawa hehehe.

Daaaannn awal tahun ini nemu tempat iniiii,,,lebih juara dari yang di depan Uniba,selain karena variasi pilihan lauknya lebih buanyaaakk,juga karena harganya lebih murah dibandingkan Batam Center. Tempatnya di dalam terminal lama arah Tanjung Piayu. Pas di perempatan lampu merah Panbill Mall, belok ke kiri lurus aja lihat sebelah kiri nanti dia kelihatan gonjreng. Ya meskipun sebenernya buat kami harganya tetep aja karena ongkos bensin ke sananya ahahaha tapi demi kenikmatan mulut segala cara ditempuh. As they say : happy tummy happy me. Untungnya punya suami kompak seleranya :)
Nih, gonjreng kan depannya, biasanya sih sekalian ada mobilnya yang punya warna hijau sebagai penanda. Paling aman ke sini jam 6.30 ke ataslah. Ada beberapa angkringan,tapi dia ini yang paling besar dan terang tempatnya (karena pas di bawah lampu jalan,ya remang-remang menuju teranglah)

Penampakannya kalau dari samping...jadi sepanjang trotoar kecilnya, sama di seberangnya lagi,cukup banyak mejanya,tapi belum sempet ngitungin, pasti dapet tempatlah pokonya. Cuma, kalau ga nyaman, mending dibungkus aja bawa pulang. Sekilas suasananya agak mengingatkan kaya alun-alun jogja. Bedanya jogja kan rame banget ya,ada odong-odongnya juga, kalau di sini sih sepiii.

Inilah akibatnya kalau datang kecepetan,,,sekitar jam 6anlah,masih belum ditata jadinya ngemper dulu deh. Kadang-kadang nasi kucingnya ada yang isinya nasi gudeg loh, lumayan banget deh buat ngobatin rasa kangen,meskipun porsinya ya porsi imut. 

Jenis satenya banyak pilihan, bahkan sate paru aja ada yang biasa sama yang pedes. Kalau suami sukanga sate sosis, kalau saya ketagihan banget sama sate kerangnya. Bisa nahan diri karena ingat kolesterol ahahaha. Sebagian besar satenya rasanya pedas, sambel terinya juga pedeshh. Sate @2000an, nasi @2000an juga, bihun dan capjae (beneran kaya dr jogja tepung gitu tp enak) @2500an, nasi gudeg @6000, gorengan @1000an.

Kalau ini intermezo aja sih,,,lauk pendamping cilok kuah gitu 5000an seporsi. Orangnya jualan di sebelah warung angkringan persis dan laris manis. Saya pribadi lebih suka ngga pake kuah, jd cuma cilok pake kecap plus sambel diublek-ublek gitu.

Rabu, 27 April 2016

Makan di Batam : Serba Mie Ayam

Kalau disuruh pilih nasi atau mie, tentu saja saya lebih memilih mie,,,diapain aja suka,,,nah di Batam ini agak susah mendapatkan mie yang sesuai lidah saya,karena kebanyakan diolahnya pakai bumbu-bumbu lengkap gitu termasuk yang chinese foodnya... Nah,untuk olahan mie ayam, ada beberapa yang saya suka dan kalau ga direm bisa makan mie terus. Catatan : kalau mau lebih bervariasi dah lebih lengkap, jangan lupa mampir ke instagramnya @batamliciouz ya :) 
Saya urutkan dari yang paling favorit.

1. Mie ayam Morning Bakery Kepri Mall. 
Cuma di Kepri Mall ya, kalau Morning Bakery yang lain, mienya ikutan lain,jadi beda-beda.

Namanya Mie Ayam Bandung, bumbunya sederhana banget, baunya wangi, mienya lembut, isi pangsitnya lembut, kuahnya bening, ayamnya kepyur putih gitu, isinya pas kenyangnya. Selalu paling favorit kalau ga sama es teh ya sama es kopi susu. Habis dari Celfit selalu ke sini, ambil meja di lantai di depan kasir (pas standing fan segernya enak, kalau di lantai 1 smoking area jadi tak mau lah yaw). Ya gimana mau cepet kurus kalau habis olahraga ransumnya model begini ahahaha, itu udah disadari banget, tapi mau gimana lagi, sudah semacam menjadi ritual.
Ini ritual lainnya kudu dicampur kecap jadi kaya yamien manis. Mengingatkan sama masa kecil yang tiap tahun liburan kenaikan kelas (jaman saya liburannya sebulan, lamaya) sering dibawa kakak sepupu ke kolam renang mana gitu, habis berenang ordernya yamien manis.

2. Mie Ayam Kendal, di sepanjang jalan deket vihara Nagoya, lurus dikit setelah soto lamongan, sebelahnya bengkel. Pertama diajak ke sini suami saya males banget karena tempatnya puanas pol dan ga seberapa meyakinkan karena spanduk namanya pun sudah robek ngga jelas hehehe.
Tapiiiii begitu nyobain dan ngeliat porsinya yang melebihi ukuran mangkoknya, seringnya malah suami yang lebih dulu ngajak ke sini. Buat dia porsinya pas,tapi buat saya kebanyakan, makanya sering dioper ke suami buar habis. Untuk seharga Rp. 10.000 mie ini termasuk memuaskan, jenis mienya lembut, ayamnya dibumbui dengan pas jadi ga bikin eneg. Juara deh rasanya. Kalau saya suka yang kering tanpa kuah begini...kalau pakai kuah, terasa lebih penuh lagi mangkoknya.
Meskipun ada tulisan baksonya di depan, di warung ini cuma ada mie ayam tok. Pernah nanya kenapa ngga bikin bakso katanya ga sempet, mie aja udah kewalahan. Hehehe bukan nggaya si masnya, kalau pas lagi jamnya,emang ramai dan kalaupun ga ramai, pasti adaaa aja yang bungkus. Kalau tahan agak panas sumuk sedikit mending makan di tempat pas masih panas mengrbul mienya. Lauk tambahan selain krupuk-krupukan adanya suma telur kecap ini, tinggal nambah Rp. 3.000. Seringnya di meja pojokan ada mas-mas yang ngepel-in mie ini sebelum dimasak,mungkin karena ukuran tangan cowok kali ya makanya jatahnya besarrrr...dan mungkin enak karena sudah kena keringetnya masnya ahahahaha *tapi ini enak,beneraaaannnn*

3. Mie Ayam My Mie di deretan food court depan Carefour Kepri Mall
Harganya ngga sampai Rp. 15.000 kecuali kalau pakai tambahan jamur atau bakso ya, porsinya kecil sih tapi lumayanlah buat cemilan sehabis belanja hehehe. Ngga enaknya dia bukanya jam 12 siang, jadi kadang kurang sabar dan teteup ke mie ayam Morning Bakery :)

4. Mie Ayam Bakso Malang Bagelen di BCS mall lantai 1,paling deket kalau masuknya lewat pintu ATM. Langsung keliatan dia standnya di lajur sebelah kanan. Depannya Bean City.
Selain mie biasa,dia juga kasih pilihan mie hijau dari sawi, oranye dari wortel dan agak pink gitu dari buah naga, suami sukanya yang wortel, saya sukanya yang sawi. Mienya biasa aja sih, kalau ga pengen-pengen banget biasanya ke food court lantai 4-nya hehehe.

5. Mie Ayam Bakso Wonogiri, food court BCS Mall lantai 4 paling ujung sendiri
Mienya agak besr, kuahnya berminyak, ayamnya potongannya sih besar-besar. Cuma buat kalau suaminya lagi kepingin aja. Kalau saya kurang suka jenis mie.nya,jadi kalau ke sini pesennya bakso kosongan aja. Saya lebih suka bakso Malang Cak Man di depan counter Bakso Wonogiri ini. Mie ayamnya sejenis inilah but less oily than this one.  Bisa dicoba siapa tau punya selera yang berbeda.