June 10, 2013

My Husband My Reminder :*

Di umur saya saat ini wacana tentang 'anak' adalah topik yang paling joss :))
Entah itu mengenai anak ke-1, ke-2 dst atau bahkan minimal sedang mengandung lah yaa, artinya sedang deg-deg an untuk jadi calon ibu.
Bagi mayoritas orang melahirkan dan memiliki anak itu adalah sesuatu yang penting, bukan berarti bagi saya ngga penting loh ya, hanya saja bahkan sebelum menikah saja saya sudah memiliki pikiran untuk adopsi saja, toh masih banyak anak yang bisa dan perlu untuk diurus.
hey wait, tapi itu sebelum menikah...setelah masuk area menikah ini, mau tidak mau hal tentang hamil dan menghamili ini menarik minat saya...daaan saya memutuskan akhirnya untuk siap hamil :)
Dan berhubung suami keturunan Batak (bukan bermaksud rasis loh ya :) pengen juga punya anak pertama kandung dan kemudian yg seterusnya diliat nanti (win-win gitulah cita2 adopsi masih bisa terkabul -ceritanya-).
Singkat cerita sampai hampir 7 bulan pernikahan kami (sekarang sih udah masuk ke bulan 8 ya) pada saat bertemu suami di Batam bulan lalu, yang ternyata gagal juga jadi dede :) saya  ingat pernah mengajukan pertanyaan mengenai keturunan dan berlanjut pada percakapan ini :

saya    : kalau aku ternyata ga bisa kasih kamu anak gimana?
suami : ya dicoba dulu aja
saya    : iya kalau udah dicoba trus ga bisa juga gimana?
suami : ya kan di awal nikah ga di bilang aku nerima kamu jadi istri asal bisa punya anak, di janji pernikahannya juga ga ditulis anak
saya   : deg..deg.. (kaget dalam ati trus diem :)
suami : mau apapun gimanapun balik lagi aja ke janji nikah kita ya 
(sambil mengucapkan kembali sumpah pernikahan kami dengan urutan yang acak adut tentunya hehehe)

Lihat kan gimana suami saya yang suka bercanda, kadang asal jawab, cuek banget ngadepin kejadian2 di sekitarnya (dia bahkan lebih positive thinking daripada saya yang sukanya keburu ngamuk duluan :) ternyata bisa memberikan jawaban yang meneduhkan...dannnnn saya sendiri aja ngga ingetttt untuk balik ke dasar kami membangun pernikahan kami.
He's so sweet...dan ini adalah kejadian ke-2 suami saya yang ganteng ini mengingatkan tentang janji pernikahan kami. yang pertama akan saya bahas di lain waktu kali ya :p

Pernah liat quote ini, tapi lupa dimana dan siapa yang bilang (maaf >.<) : 

"Janji itu diucapkan pada saat mentari bersinar, tetapi ditagih pada saat hujan badai."

Yup, kami mengucap janji pada saat dipuncak kesenangan kami, tapi apakah kami siap pada saat janji itu ditagih, terutama saat lingkungan tidak mendukung?
Saya yakin, selama suami saya siap, saya juga siap, karena dia adalah kepala hidup saya, wakil BIG BOSS dari surga :) 
Pernikahan ini masih muda, semoga bisa menua dengan bijak. Amin.
"Janji itu diucapkan pada saat mentari bersinar,
tetapi ditagih pada saat hujan badai
."

May 8, 2013

Ulasan Life is Beautiful oleh Xavier Quentin Pranata

Pagi ini saya membaca Life is Beautiful nya Xavier Quentin Pranata.
Dalam bab tentang 'Sepatu Boot' ada sebuah kalimat yang menggelitik saya, begini bunyinya 

"kita bisa berhasil menjalani hidup yang seutuhnya bukan berdasarkan apa-apa yang menimpa kita, tetapi lebih pada reaksi kita terhadap peristiwa itu. Reaksi positif akan menetralkan aksi negatif. Sebaliknya, reaksi negatif memperburuk aksi negatif"

dan sebuah kalimat lagi yang membuat saya semakin gatal dalam bab 'The Power of Thinking'

"kita memiliki kecenderungan untuk menyalahkan lingkungan dan orang lain. padahal seringkali kitalah yang membuat lingkungan kita menjadi buruk dan tidak nyaman untuk didiami".

Kedua kalimat ini sangat menggambarkan kehidupan interaksi saya terutama dengan orang yang saya kasihi yang mau tidak mau setiap aksinya membuat saya memunculkan reaksi. yaaang entah kenapa seringkali saya melakukan hal negatif yang membuat saya malah memunculkan duri-duri dan kemudian muncullah situasi yang tidak diharapkan.

Kedua kalimat tersebut bisa dengan mudah saya gambarkan seperti berikut ini.
aksi negatif : Pernah ngga merasakan betapa inginnya mewujudkan keinginan orang yang kita sayang, simple ngga susah-susah, dia cuma pengen nurunin berat badan dan paling tidak perut buncitnya sedikit mengalami penurunan lingkar. Tapi ngga bisa dong ya kita yang lakuin, yang bisa kita lakukan adalah sekedar mengingatkan jangan makan ini, makan itu, minum air putih, ngingetin jam makan dan hal-hal klise lainnya. Kita menganggap kita sudah masuk ke dalam rutinitas program penurunan lingkar perutnya. *catet ya*
Daaaan kemudian sekitar jam 11 malem dia minta sepiring nasi goreng menu lengkap beserta jusnya dengan alasan lapar seharian belum makan kalau lapar ngga bisa tidur, kita berusaha dong ya mengingatkan hanya makan buah atau sayuran dan ybs tetep ngotot dengan menunya.

reaksi negatif saya : marah, ambil bantal, tidur membelakangi dan membiarkan dia menghabiskan makan sendiri sambil merasa usaha mengingatkan selama ini sia-sia dan dianggap angin lalu (padahal udah serius ya booo :)
aksi-reaksi negatif ini berlangsung sampai pagi hari dan semakin kesal ketika ybs merasa tidak bersalah sambil nonton televisi dan meracau mengenai kegiatan-kegiatannya bersama teman-temannya. yang satu semakin cemberut karena merasa tidak dihargai sementara pihak lain merasa baik-baik saja karena merasa lapar dan bukan hal yang menyalahi wong seharian belum makan (males bilang ini kalau inget mbulnya XD)

aksi negatif saya : mendiamkan sambil menanggapi sambil lalu setiap perbincangan, berusaha tampak baik-baik dan kemudian nangis bombay (yang udah ditahan) sambil ngome-lngomel menyalahkan dia dan keadaan yang terjadi
reaksi negatif dia : membela diri, menyalahkan kalau tadi malam saya meninggalkan dan cari gara-gara hanya karena sepiring nasi goreng padahal dia lapar, menuduh tidak pengertian (di sisi lain saya sambil mewek menyalahkan dia adalah pihak yang tidak pengertian)

blablablabla adu argumen dari sudut pandang masing-masing yang membuat lewatnya ritual morning s*x terlewati, tidak ada pelukan hangat padahal kemudian akan berpisah selang beberapa waktu, tidak ada senyum pengertian yang membuat saling dipahami satu sama lain dan bahkan tidak ada kecupan kecil sebagai penanda bahwa keberadaan masing-masing masih dibutuhkan daaann buruknya komunikasi selama seminggu ke depan (atau mungkin lebih? ;p)...

waw betapa banyak kerugian yang dialami hanya karena reaksi yang kurang tepat dan kemudian saling menyalahkan, menuduh  tanpa melihat bahwa aksi diri sendiri terkadang menimbulkan reaksi yang salah, ingin dipahami tanpa berusaha lebih dulu memahami, sama-sama tidak mau mengalah dengan melihat sakit dan luka hati yang ditimbulkan, sama-sama merasa butuh didahulukan kepentingannya, dan banyak lagi daftar keegoisan lainnya yang menuju pusat yang sama : menyalahkan dengan tidak memperhatikan reaksi kitalah yang menyebabkan rentetan aksi lainnya.

susah-susah gampang saudara, biasanya setelah kejadian baru bisa evaluasi diri :)
tapi dengan pembelajaran yang kontiniti saya yakin kedewasaan suatu hubungan akan bisa terus terasah, seandainya saya mengalah terlebih dahulu dan memahami kebutuhannya makan nasi goreng tengah malam sambil memberikan argumen yang lebih lembut mungkin saja kejadiannya akan berbeda, memberikan reaksi positif (seminimal mungkin setidaknya :) terhadap aksi negatif akan sangat berdampak besar kan ya?
atau mungkin di pagi harinya saya yang lebih dahulu memberikan kecupan selamat pagi dan memberikan tanda bahwa saya sudah mengampuni sepiring nasi gorengnya di malam hari :D
yah apapun itu, pembelajaran bagi saya adalah : diperlukan penguasaan diri dan terutama  selalu mengingat bahwa : reaksi kitalah yang menentukan ^_^ 
terutama agar tidak membuang waktu yang berharga dengan mengisi pertengkaran bersama orang-orang yang kita kasihi. betul tidak? 

"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu,
hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"
(Roma 12:18)

May 1, 2013

ingatkan aku akan rinduku ya?

Pernah merasakan ini? :

" yang ditakutin bukanlah kehilangan cinta atau orang yang dicintai.
yang ditakutin adalah kalau kehilangan rasa 
atau setidaknya lupa rasanya mencintai dia yang pernah dicintai...
pengen masukin 'rasa' itu ke dalam sangkar 

dan ga boleh pergi kemana2 tanpa ijin..."

dan kemudian hari ini menemukan ini :

"Ingatlah untuk mengingatkanku andai ingatanku lupa untuk mengingatmu."
(amanda, sematakata.wordpress.com)

lalu secepat ingatanku mengingatmu, secepat itu pula merasakan ini :

"tak lagi aku mampu menggenggam rindu
biarlah dia melengang sesuai kehendaknya
karena dlm hujan kali ini aku mulai melihatnya
melihat bahwa ternyata dia bersayap
sayap yang mulai aku yakini akan membuatnya terbang kepadamu

supaya kamu merasakan rindu yang sama"

April 6, 2013

Suvenir pernikahan : Genta angin dan makna dibaliknya :)


Hal-hal yang menjadi fokus kami pada saat melangsungkan pernikahan, di luar kelancaran acara, adalah :

1. makanan : pilihan makanan harus memuaskan para undangan dan tentu saja membawa penilaian yang positif :D 
2. undangan : pilihan yang tidak sekali pakai dan  dibuang tetapi bisa selalu digunakan
3. suvenir : yang tidak dibuang melainkan digunakan dan tentu saja sekali lagi tidak asal melainkan ada makna dan doa yang terkandung di dalamnya :)


Berhubung makanan dan undangan di handle oleh mama dan adik tercinta saya, yang tentu saja diselesaikan dengan kualitas sempurna :), maka saya bertugas mencari sendiri suvenir pernikahan saya. Tampaknya mudah saudara-saudara, apa daya ternyata tidak sesepele yang saya bayangkan, saya masih ingat perasaan tertekannya saat sebulan sebelum hari H belum mendapatkan ide apa-apa.
Tx God akhirnya dapet juga siihhh, apakah itu? 
Genta/Lonceng Angin berbentuk rumah burung.

Apakah setelah mendapatkannya langsung selesai urusannya? tentu tidak, saya masih harus berdebat dengan pihak penyuplai mengenai bagaimana kemasan yang saya inginkan, meskipun alot, akhirnya ide saya disetujui dan bahkan mereka menjadikan ide saya sebagai pilihan suvenir pernikahan di galeri mereka :D harusnya saya dapet royalti yaaa :)
Ya hitung-hitung berbagi ide.lah....
Nah ini dia bentuk suvenir yang akhirnya berpindah tangan kepada para undangan :

ada 3 macam bentuk rumahnya dan kesemuanya
berukuran sekitar 20x15 cm
itu yang besi2 itu adalah gentanya :)

ini bentuk rumah ke 2, yang bentuk ke 3 hampir
sama bentuknya, hanya berbeda di bagian alas,
rumah yang ke 1 dan 2 beralaskan kayu manis
sedangkan rumah ke-3 beralaskan lempengan kayu
Nah, alasan saya untuk memilih bentuk suvenir ini adalah :

Genta/lonceng angin, merupakan salah satu media yang diyakini akan memberikan ketenangan bagi yang mendengarnya (asal tidak digunakan dalam film horor ya :D). 
Dalam pernikahan/rumah genta/lonceng angin dikatakan dapat menghalau chi buruk (saya bukan pengikut aliran fengshui2an, tetapi selama artinya baik ya diambil saja :), membawa kedamaian, kasih karunia dan ketenangan yang membawa harmoni apabila ada keributan-keributan yang mungkin terjadi dalam suatu rumah tangga. Ya mungkin karena suaranya yang menenangkan jadi orang kalau mau ribut jadi ngga jadi deh ^_^

Rumah burung, kenapa rumah dan bukan sangkar? karena rumah itu merupakan lingkungan terbuka dan memberikan kebebasan yang ada aturan tertentu pada para penghuninya, suatu tempat untuk berkumpul dan 'pulang'. Memberikan kehangatan dan kenyamanan, tidak seperti sangkar yang bisa saja dibentuk 'nyaman' tetapi mengekang dan mengurung sehingga tidak membebaskan dan tidak memberikan kesempatan penghuninya mengaktualisasikan diri.
Hehe ini pemikiran jangka panjang saya mengenai rumah tangga yang akan saya bentuk bersama suami saya tentunya

Burung yang berhadapan / berdampingan, ini menjadi pesan khusus saya pada pihak penyuplai bahwa kedua burung harus berhadapan muka degan muka, meskipun berdampingan atau berseberangan tetap dengan posisi kepala berhadapan tidak yang 1 ekornya kemana yang 1 kepalanya kemana. 
Kenapa? 
Karena kedua burung ini melambangkan saya dan suami saya. Burung punya sayap yang bisa membuatnya terbang kemanapun dia mau atau bertingkah sesukanya di luar, tetapi dia akan tetap bisa kembali ke rumahnya.
Sama seperti kami berdua, pribadi yang berbeda baik secara kepribadian dan pemikiran.
Kami sama-sama punya kehendak bebas yang bisa menyebabkan kami pergi mencari aktualisasi diri, melakukan kenakalan2 yang kami butuhkan untuk meningkatkan kualitas pribadi, dsb dll dkk kami pasti akan keluar dari rumah tetapi kami juga akan kembali ke rumah. 
Serumit apapun perbedaan dan permasalahan kami akan berusaha menyelesaikannya dengan berhadapan muka dengan muka. Berusaha untuk tidak memberikan ekor kami atau mengalihkan pandangan dari pasangan kami. Tidak bermusuhan melainkan saling memahami dan mengiringi yang tidak hanya diungkapkan melalui kata melainkan juga gesture dan perilaku keseharian kami :)

Sarang berisi telur, merupakan keinginan dimana kami bisa menciptakan kenyamanan sebuah sarang bagi anak-anak kami di dalam rumah yang juga kami bangun dan tinggali bersama. Tempat kami akan pulang dan anak-anak berkumpul meskipun kami punya sayap masing-masing untuk terbang....tapi kami kembali ke 'rumah' ^_^

Unsur kayu manis, kayu wangi, buah pinus, berharap meskipun susah atau ada hambatan, tetap kami akan diwarnai dengan manis, harum dan kesegaran yang terambil dari maksud setiap kejadian dalam perjalanan rumah tangga ini.

Fiuh, doa sudah kami sebar berbentuk suvenir (sepengetahuan saya kemudian, ada yang dipasang di luar rumah, di atas pintu masuk rumah, di atas pintu kamar, di ruji2 kanopi depan rumah, di lemari tmpt hiasan2, dan tmpat lain yang saya belum menemukannya :) menyenangkan melihat mereka memakainya hehehe). Semoga seiring angin yang meniup genta-genta angin tersebut, maka doa-doa yang terkandung dalam setiap sisi suvenir akan teriring bagi perjalanan keluarga baru kami ini  ^_^ amin.

January 4, 2013

suami istri bagi anak usia 4 tahun

Tidak terasa sudah tahun 2013 yaaa :)
Peralihan tahun ini masih biasa-biasa saja bagi saya, terutama disebabkan keterikatan saya kembali untuk mengerjakan tesis.
Hal yang menakjubkan adalah ini merupakan tahun baru pertama saya sebagai seorang istri :)
Bersyukur sudah pasti apalagi suami berhasil mendapatkan cuti panjang meskipun dihabiskan dengan kondisi kurang enak badan saat menjelang pergantian tahun kemarin.

Kami menyambut tahun 2013 dengan menginap di rumah peristirahatan salah seorang kerabat di Batu. Bagi saya udara pada saat itu memang tidak sedingin biasanya karena saya mampu tidur tanpa selimut.
Tapi tidak bagi suami, karena dia membutuhkan 2 lembar selimut agar merasa hangat.
Kondisi masuk angin seperti ini membuat kami mendekam di kamar saja tepat pada tanggal 1 Januari 2013. Suami tidur bertumpukan selimut sedangkan saya dalam posisi duduk memainkan game mobile sebagai pengalih saat menemaninya.

Sampai kemudian pintu diketuk dan dibuka setelah saya persilahkan masuk dan ternyata itu adalah Kia, salah seorang sepupu saya yang masih berusia 4 tahun (hehehee iya jarak usia kami memang terpaut jauh).
Sambil menatap saya dia juga keheranan menatap suami saya dan bergantian seperti itu selama beberapa detik.

"Kenapa Ki?" tanya saya yang sambil tetap memainkan game 
"mbak Okta tidur disini?" tanyanya balik
"Iya, kenapa?"
"Mas Bernat  juga tidur disini?" tanyanya dengan nada kebingungan sambil menunjuk suami saya yang masih tertidur.
"Iya dong Kia"
"Mbak Okta ngga tidur di kamar belakang sama budhe??" (budhe yang dimaksud adalah mama saya) sambil menghentikan permainan saya mulai menangkap bahwa bagi Kia ada yang salah kalau kami tidur berdua.
"Engga Kia, kan sekarang mbak Okta dan mas Bernat sudah suami istri jadi tidur satu kamar, nih mbak Okta nemeni mas Bernat sakit" jawab saya sambil merengkuhnya untuk menjelaskan dalam posisi yang nyaman baginya
"suami isteriii?" tanyanya dalam nada yang lucu sambil ditarik meninggi :)
"iya kaya papa dan mama itu loh, kan mbak Okta sama mas Bernat sudah menikah"
"oh, menikah ya?"
"iya menikah, itu loh yang waktu mbak Okta dandan trus Kia foto2 bareng itu loh, yang di gereja dan banyak bunga" ujar saya sambil mengingatkan beberapa hal yang membuatnya tertarik dengan pernikahan kami.
"ooohh iyaaaa, akuu lupaa, sekarang ingettt" kembali dia menjawab dengan lucunya sambil menepuk jidatnya layaknya orang dewasa yang teringat sesuatu ^_^
"yes, Kia inget, jadi karena sudah suami isteri kami boleh ya ada di satu kamar bareng"
"iya..iya boleh...itu maen game apa?" sambil naik di pangkuan saya dia meraih hape yang sedang saya pegang dan mengambil alih hape tersebut.

Sambil menatapnya memainkan hape, saya sebenarnya masih cukup terkejut dengan pemikirannya yang cukup kritis kenapa saya dan suami ada dalam satu kamar padahal selama ini yang dia tahu adalah mba Okta dan mas Bernat yang pacaran dan tidak ada di kamar yang sama; mbak Okta yang masih tidur sama mamanya :)

Yah kita tidak pernah bisa menduga bahwa pemikiran anak-anak berkembang berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang dirasakan maupun dilihatnya.
Beruntung bagi anak-anak yang mau bertanya dan berani mengungkapkan keheranannya.
Beruntung bagi saya cukup bisa menangkap keheranannya dan mau menjawabnya dengan cara yang mudah dipahaminya.
Hehehehe dari jawaban dan respon yang diberikannya, saya menganggap Kia cukup paham dengan konsep mama-papa dan pernikahan sehingga ia mengijinkan kami sebagai suami istri boleh tidur dalam kamar yang sama.
Dan sampai saat ini masih merasa bangga cukup mampu menjelaskannya kepada seorang anak kecil yang masih balita :D
Bagi saya saat itu merupakan keberhasilan kecil saya dalam menjawab keheranan seorang anak terhadap kondisi lingkungan yang berubah (hadeh bahasanya :) 
Yah semoga ke depannya apabila ada kejadian aneh lagi saya juga mampu bijaksana mencari kata-kata dan penjelasan yang tepat terutama bagi anak-anak.
Sudah mulai harus mencari banyak kosa kata, sekalian menabung pembelajaran untuk menjawab keheranan anak-anak saya nantinya ^_^ (belajar jadi calon ibu :p)

Kia itu yang di pojok kanan memakai semi tuxedo :)
ganteng kan ya, hehehee, ceriwis dan cerdas anaknya
paling suka kalau saya dandan cantik, nanti dia
akan kecentilan :p *jadi kangen Kia, makasih ya sayang
buat pertanyaannya, jadi pembelajaran buat mbaknya :)