Showing posts with label suami-istri. Show all posts
Showing posts with label suami-istri. Show all posts

September 30, 2014

Mengenang Masa LDR - LDM :)

Ngga terasa sudah mau habis juga September 2014 dan menjelang Oktober 2014 :) Oktober itu adalah bulan saya karena dia adalah bulan ulang tahun saya dan ulang tahun ponakan kesayangan, bulan dimana akhirnya saya menyelesaikan S2 saya serta bulan dimana akhirnya saya melepas masa lajang. semoga Oktober 2014 ini membawa berkahnya sendiri ya :)

Tahun 2014 ini secara hitungan waktu sih sudah berjalan 2 tahun ya pernikahan saya dan suami, tapi secara kenyataan kami baru menjalani rumah tangga sesungguhnya alias gabung jadi satu rumah ya baru 6 bulan (jalan 7 bulan ding) di tahun 2014 ini.

Trus sisa waktunya kemana? Sejak 2 hari setelah sah menjadi suami-istri, saya sudah ditinggal suami kembali ke kota asal karena cuti menikahnya sudah habis :D Ya, 1,5 awal tahun pernikahan kami menjalani yang mungkin bisa di sebut long distance marriage jenjang tertingginya long distance relationship alias LDR hehehehe sok-sokan ada perjenjangan ya. Kami harus berpisah sementara karena saya mesti menyelesaikan kuliah S2 saya di Jogja sementara suami harus kembali ke kota Batam untuk bekerja. Orang lain yang biasanya mendengar kisah kami di awal pernikahan ini responnya sebagian besar sama yang lebih menggambarkan keheranan kok bisa ya, kok tahan ya, kok mau ya. Lah gimana wong memang keputusan kami berdua saat itu memang seperti itu hehehe

Kalau ditanya kok bisa, ya bisa-bisa aja, karena sebelumnya kami sudah terlatih menjalani LDR. Kalau mengenang masa lalu *ihik* saya dan suami berpacaran sejak 17 Agustus 2003, tapi  pada Januari 2005 pada saat saya keterima kerja di ibukota itu adalah awal kami menjalin hubungan pacaran jarak jauh. Kalau mau pencitraan ya sampai Oktober 2013 kami berarti pacarannya sudah 10 tahun ya :))) pencitraan positif karena sebenernya ya putus sambung, pertengkaran sana-sini, cemburu gitu-gini, permasalahan itu-ini, de-el-el, de-es-be. Tapi kalau masalah putus ini suami pasti ngga terima karena kalau menurut beliaunya permintaan putus selalu datang dari saya dan beliau ndak pernah mengiyakan, jadi versi pacarannya suami lebih langgeng dibandingkan putus sambung versi saya >.<

Kalau ditanya resepnya apa, saya sendiri ndak tau, tapi yang sudah pasti ya karena pacar saya waktu itu (alias suami saya sekarang) yang kekeuh bertahan dan ngejar mulu ngajakin nikah :D bener loh, banyak banget pengorbanan yang dilakukan sampai pernah pindah dari pekerjaan di Tarakan hanya karena saya ngga mau ikut tinggal di Tarakan padahal pada saat itu saya tidak menjanjikan apa-apa. Sampai akhirnya tetap dipinang padahal saya belum lulus studi hehehe, udah gemes palingan ya :p

Nemu kolase foto jadul ini bulan kemaren di map file dokumen punya suami, ternyata dia yang simpen :) Ada beberapa foto kami juga dia masih simpan. Kalau saya? Jangan tanya, tiap berantem atau ada masalah sedikit pasti setiap foto disingkirkan alias digunting-gunting XD lebih enaknya LDR itu adalah kalau ada masalah ngga ngeliat orangnya langsung jadi bisa ngapa-ngapain enak, nyari pengalihannya lebih gampang. Ngga enaknya ya jadi permasalahan kadang berlarut, pas mau dibahas kadang malah udah lupa masalahnya apa :D yang keinget cuma perasaan dan emosi negatifnya saja dan malah kadang menuju pertengkaran baru lagi. Cuma ya jangan tanya, kalau kangen ya kangen banget...pas ketemu meskipun cuma beberapa hari pasti ngga terasa tiba-tiba harus udah pisah lagi hehehe
Ini kondisi suami dan saya baru-baru ini (sekitar 3 minggu yang lalu :) sudah sama-sama semakin membulat dan makin banyak permasalahan rumah tangga yang kami hadapi, tetapi yang masih sama seperti di awal kami pacaran ya suami sih yang lebih sabar dan ngalah. Jangaan salah, sejak menjadi seorang istri, saya juga sudah mengalami banyak perubahan, jadi lebih manusiawi dan lebih sabar :D *ini penilaian saya oh ya* Kalau awal masih LDM lebih enak, ngga perlu ketemu dan meredam emosi lebih gampang. Kalau sekarang, gimana mau kabur, oknumnya ketemu lagi di rumah, yang di lihat ya dia lagi dia lagi :D apalagi dengan intevensi keluarga dari pihak suami yang budayanya sangat berbeda sekali dengan nilai-nilai moral yang saya anut, beugh jangan tanya gimana porak porandanya kami beradaptasi, kerasanya baru sekarang booook *tarik napas dalam-dalam sambil bilang aku rapopo :p* Masih seumur jagunglah kalau dibandingkan dengan keluarga muda lainnya...semoga menjelang 2 tahun pernikahan ini kami semakin sama-sama lebih dewasa dan bisa lebih bijaksana menghadapi permasalahan (yang sebenernya sih muter-muter di situ-situ aja dan ada pihak-pihak yang kadang ngga merasa bahwa intervensinya sudah kelewat batas dan beberapa hambatan hubungan lainnya, wajar sih ya namanya juga 2 otak 2 hati jadi 1 rumah :D ya selama masih di kota ini sepertinya bakalan gini-gini aja :D) semoga tahun depan lebih bisa siap menjadi orang tua, karena kalau tahun ini sepertinya masih tahun kami beradaptasi dengan kehidupan rumah tangga ya. semoga. amin :)

January 4, 2013

suami istri bagi anak usia 4 tahun

Tidak terasa sudah tahun 2013 yaaa :)
Peralihan tahun ini masih biasa-biasa saja bagi saya, terutama disebabkan keterikatan saya kembali untuk mengerjakan tesis.
Hal yang menakjubkan adalah ini merupakan tahun baru pertama saya sebagai seorang istri :)
Bersyukur sudah pasti apalagi suami berhasil mendapatkan cuti panjang meskipun dihabiskan dengan kondisi kurang enak badan saat menjelang pergantian tahun kemarin.

Kami menyambut tahun 2013 dengan menginap di rumah peristirahatan salah seorang kerabat di Batu. Bagi saya udara pada saat itu memang tidak sedingin biasanya karena saya mampu tidur tanpa selimut.
Tapi tidak bagi suami, karena dia membutuhkan 2 lembar selimut agar merasa hangat.
Kondisi masuk angin seperti ini membuat kami mendekam di kamar saja tepat pada tanggal 1 Januari 2013. Suami tidur bertumpukan selimut sedangkan saya dalam posisi duduk memainkan game mobile sebagai pengalih saat menemaninya.

Sampai kemudian pintu diketuk dan dibuka setelah saya persilahkan masuk dan ternyata itu adalah Kia, salah seorang sepupu saya yang masih berusia 4 tahun (hehehee iya jarak usia kami memang terpaut jauh).
Sambil menatap saya dia juga keheranan menatap suami saya dan bergantian seperti itu selama beberapa detik.

"Kenapa Ki?" tanya saya yang sambil tetap memainkan game 
"mbak Okta tidur disini?" tanyanya balik
"Iya, kenapa?"
"Mas Bernat  juga tidur disini?" tanyanya dengan nada kebingungan sambil menunjuk suami saya yang masih tertidur.
"Iya dong Kia"
"Mbak Okta ngga tidur di kamar belakang sama budhe??" (budhe yang dimaksud adalah mama saya) sambil menghentikan permainan saya mulai menangkap bahwa bagi Kia ada yang salah kalau kami tidur berdua.
"Engga Kia, kan sekarang mbak Okta dan mas Bernat sudah suami istri jadi tidur satu kamar, nih mbak Okta nemeni mas Bernat sakit" jawab saya sambil merengkuhnya untuk menjelaskan dalam posisi yang nyaman baginya
"suami isteriii?" tanyanya dalam nada yang lucu sambil ditarik meninggi :)
"iya kaya papa dan mama itu loh, kan mbak Okta sama mas Bernat sudah menikah"
"oh, menikah ya?"
"iya menikah, itu loh yang waktu mbak Okta dandan trus Kia foto2 bareng itu loh, yang di gereja dan banyak bunga" ujar saya sambil mengingatkan beberapa hal yang membuatnya tertarik dengan pernikahan kami.
"ooohh iyaaaa, akuu lupaa, sekarang ingettt" kembali dia menjawab dengan lucunya sambil menepuk jidatnya layaknya orang dewasa yang teringat sesuatu ^_^
"yes, Kia inget, jadi karena sudah suami isteri kami boleh ya ada di satu kamar bareng"
"iya..iya boleh...itu maen game apa?" sambil naik di pangkuan saya dia meraih hape yang sedang saya pegang dan mengambil alih hape tersebut.

Sambil menatapnya memainkan hape, saya sebenarnya masih cukup terkejut dengan pemikirannya yang cukup kritis kenapa saya dan suami ada dalam satu kamar padahal selama ini yang dia tahu adalah mba Okta dan mas Bernat yang pacaran dan tidak ada di kamar yang sama; mbak Okta yang masih tidur sama mamanya :)

Yah kita tidak pernah bisa menduga bahwa pemikiran anak-anak berkembang berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang dirasakan maupun dilihatnya.
Beruntung bagi anak-anak yang mau bertanya dan berani mengungkapkan keheranannya.
Beruntung bagi saya cukup bisa menangkap keheranannya dan mau menjawabnya dengan cara yang mudah dipahaminya.
Hehehehe dari jawaban dan respon yang diberikannya, saya menganggap Kia cukup paham dengan konsep mama-papa dan pernikahan sehingga ia mengijinkan kami sebagai suami istri boleh tidur dalam kamar yang sama.
Dan sampai saat ini masih merasa bangga cukup mampu menjelaskannya kepada seorang anak kecil yang masih balita :D
Bagi saya saat itu merupakan keberhasilan kecil saya dalam menjawab keheranan seorang anak terhadap kondisi lingkungan yang berubah (hadeh bahasanya :) 
Yah semoga ke depannya apabila ada kejadian aneh lagi saya juga mampu bijaksana mencari kata-kata dan penjelasan yang tepat terutama bagi anak-anak.
Sudah mulai harus mencari banyak kosa kata, sekalian menabung pembelajaran untuk menjawab keheranan anak-anak saya nantinya ^_^ (belajar jadi calon ibu :p)

Kia itu yang di pojok kanan memakai semi tuxedo :)
ganteng kan ya, hehehee, ceriwis dan cerdas anaknya
paling suka kalau saya dandan cantik, nanti dia
akan kecentilan :p *jadi kangen Kia, makasih ya sayang
buat pertanyaannya, jadi pembelajaran buat mbaknya :)

April 27, 2012

small step or big step?

Kalau orang-orang pada risih ditanya kapan nikah? atau ga suka kalau umur hampir kepala 3 belum nikah2 juga, mungkin itu ngga terjadi sama saya ^_^ saya masih menyukai kesendirian saya, kebebasan saya, keegoisan saya, keputusan2 ngga penting yang harus saya ambil, dan segalanya tentang ke-SINGLE-an saya :D
I do, i really2 do....

Tapii...setelah mengalami pemikiran panjang, uraian air mata (lebay sithik :D), masukan sana-sini, pertengkaran yang sepertinya ngga ada habisnya seiring dengan panjatan doa..akhirnya saya yang masih menganggap akan menikah di usai 35 tahun ini.pun akhirnya memutuskan untuk : MENIKAH!! >.<

Small step dalam kehidupan kemanusiaan seseorang, tapi ini adalah Big step dalam seluruh keputusan hidup saya (tau aja saya kalau dihadapkan pada pilihan suka sok labil) dimana setelah hampir 9 tahun putus-nyambung dengan pasangan yang saya pilih saat ini akhirnya saya memutuskan akan menikahi diaaaaaaa...

Dan ternyata cukup memakan emosi saudara2 :D berhubung saya dibesarkan dnegan budaya jawa dan calon dibesarkan dengan budaya Batak...
Ditengah keriwehan yang ada berbagai selubung pribadi yang selama ini saya kira sudah saya pahami sedikit2 terkuak...
Apalagi kalau ntar menikah ya, kejutan apalagi yang akan saya dapatkan?? (we'll seeeee lah yaaaaa :DD)

Doakan semoga keputusan ini adalah keputusan yang terbaik dan saya juga bisa memberikan yang terbaik pula....hiks...kangen mamaaaa *gini kok umur 30 ahahahhaaa lempar dari lt 5