Showing posts with label people around. Show all posts
Showing posts with label people around. Show all posts

July 31, 2014

“Hanya Aku”

Ting-ting (pesan masuk)
Tara                 : Ngopi yuk
Freya               : Ngga ah, males, panas
Tara                 : Kujemput ya, please?
Freya               : Ogah ah, tetep aja naik motor kepanasan
Tara                 : Siap-siap ya, 10 menit lagi meluncur ke kosanmu
Dih, dibilang ngga mau juga maksa. Kesal aku melemparkan handphone ke atas tempat tidur dan mengarahkan kakiku yang sebenarnya malas meladeni ajakanmu ini ke lemari pakaian untuk bersiap-siap. Ya, inilah aku dengan kebiasaanku yang tidak pernah bisa menolak permintaanmu dan kamu dengan perangaimu yang selalu antipati terhadap penolakanku. Selalu kamu pemenangnya. Bukan panasnya mentari kota ini yang membuatku malas menanggapi ajakanmu, bahkan sebenarnya aku selalu menantikan waktu untuk bisa menikmati wajahmu, celotehmu dan menikmati kebersamaan kita apapun aktivitasnya. Bahkan aku menggilai aroma tubuhmu dalam berbagai aktivitas, karena kamu tetap wangi sih, siapa juga yang mau membaui bau asem keringat setelah futsal? Anehnya tidak seperti teman priaku yang lain, kamu selalu wangi, bahkan kamarmu pun termasuk rapi dibandingkan kamarku yang acakadut ini. Hal yang membuat aku malas adalah topik yang sudah hampir sebulan ini tidak pernah berubah dari dirimu Ra, topik tentang gebetan barumu. Stok lama sih katamu dan aku pun pernah mengenal sosoknya, dia yang dulu mengacuhkanmu tetapi entah mengapa akhir-akhir ini dia mulai merespon minatmu terhadap dirinya.

Handphone-ku mulai berdering dengan ringtone yang aku setting khusus untukmu. Beberapa kali hanya ada panggilan-panggilan singkat, menunjukkan ketidak sabaranmu dan aku memang sengaja tidak merespon, soalnya lagi malas, kalau kamu yang butuh ya kamu yang menunggu. Bukan begitu Ra? Inginnya membuatmu menunggu satu jam di luar, apa daya hanya selang 5 menit aku sudah siap di hadapanmu sambil membawa helm pribadiku.
“Yah, kok ga dandan sih, biasa banget polesannya” protesmu melihat tampilanku yang mungkin seperti orang baru bangun tidur, padahal ya sudah dipoles sedikit bedak dan cukup sempat memulas lipgloss andalanku.
“Udah deh cerewet, suruh siapa kasih waktu cuma 10 menit, mana ada bisa menor 10 menit, jadi ngga nih, kalau ngga aku masuk lagi” gusarku, sudah bagus aku mau nurutin kamu Ra.
“Iya, iya, tumben galak, belum waktunya datang bulan kan hahahaha” candamu sambil mengejarku yang sudah menuju tempatmu memarkir motor. Sedekat itukah kita Ra sampai jadwalku datang bulan saja kamu hapal, ya enak sih soalnya aku teratur, kalau engga, mana kamu tau kan.

Duduk di boncengan motormu ini sebenarnya sedikit menyiksa, karena angin dengan seenaknya bisa membuat hidungku penuh dengan aroma tubuhmu dan otakku akan selalu mengingat bau ini Ra, sampai kapanpun. Kuletakkan tas kanvasku di antara kita untuk meminimalisir kontak fisik akibat guncangan-guncangan yang ditimbulkan motor ini saat menghadapi jalan tidak rata. Ya tidak munafik sih Ra, sejak aku merasakan rasa sayang yang berbeda, sentuhan sekecil apapun darimu menimbulkan getaran yang aku tidak suka dan membuatku tidak nyaman. Padahal sejak awal pertemanan kita mau uwel-uwel rambut atau noyor pipi bukanlah hal yang asing bagi kita berdua. Kamu mungkin sudah lupa saat kota pelajar dan kota budaya ini pernah diguyur hujan deras plus petir yang bahkan membuat baliho di depan perempatan fakultas Magister Manajemen dan beberapa pohon di sekitar fakultas kehutanan tumbang di saat itu pula kamu pertama kali menangis sejadi-jadinya. Kalau di komik-komik mukamu sudah seperti pelakon yang hidungnya penuh ingus bercampur air mata kali ya Ra hehehe. Saat ini aku mudah mentertawakan momen itu, tetapi di waktu itu saat kamu mulai sesenggukan di bahuku dan tidak sengaja pada saat menoleh aku malah mencium ubun-ubunmu sekedar untuk memberi kekuatan. Ternyata hal itu malah membuat aku bergetar dan menahan diri kuat-kuat untuk tidak memelukmu untuk memberikan kekuatan padamu bahwa kamu baik-baik saja meskipun Anin meninggalkanmu untuk pria yang secara umum dipandang sudah mapan dan pindah ke kota lain mengikuti suami barunya itu.

“Mau nyuci helm sekalian ga? Mumpung sepi tuh kayanya” ujarmu membuyarkan lamunanku, ternyata kita sudah memasuki parkiran motor basement mall ini.
“Iya, boleh deh, bayarin tapi ya, aku lagi bokek”
“Wuuu maunya”
“Ya maulah, wong ditraktir yo mosok nolak” sahutku sambil meletakkan jaket di jok motor dan membawa helm ke arah pencucian helm tanpa menunggu repetanmu selanjutnya. Aku selalu suka bau helm baru dicuci, dulu kamu mana mau Ra ikut-ikut, tapi setelah beberapa kali melihatku akhirnya malah kamu yang jadi rutin cuci helm. Coffee shop tempat biasa kita mangkal terletak di lantai dasar mall ini. Siang ini tidak terlalu ramai, meskipun sebenarnya tergoda aroma bakso saat menaiki eskalator ke atas, aku menahan diri untuk ikut saja ngopi seperti ajakanmu.

Aku sudah cukup terbiasa dengan istilah-istilahmu, kalau “ngopi yuk” ya artinya kamu ingin ke tempat yang tenang untuk bisa ngobrol dalam waktu beberapa lama tanpa gangguan suara-suara dari lingkungan sekitar. “Jalan yuk” artinya adalah mencari tempat yang sedikit jauh untuk refreshing entah kamu yang pilih atau aku yang penting tidak di pusat perkotaan, biasanya sih ke bukit atau pantai pilihannya, kalau rajin dan ada kelebihan bensin ya sekalian hunting makanan ke kota sebelah. “Nongkrong yuk” artinya ke mana saja yang ramai sekalian bisa puas melihat tingkah laku orang dengan pose seenak kita entah cuma sekedar ke angkringan belakang stasiun atau ke tempat-tempat yang katanya didatangi anak gaul kota berhati nyaman ini. “Makan yuk” artinya ya makan besar memuaskan hasrat lapar kita. Sekarang kamu kodenya adalah ngopi bukan makan, jadi ya rasa ingin makan itu bisa ditunda nanti saat pulang aku akan bungkus untuk makan malam. Pojokan favorit kita belum terisi, ya memang siang ini mall tampak cukup sepi entah karena matahari yang sedang gahar atau karena memang mendekati akhir bulan entahlah.

“Ze udah mau aku ajakin keluar loh Frey” ujarmu membuka pembicaraan setelah mba-mba waitress yang ramah membawa pesanan kita untuk dibuat.
“Oia, trus? Cuma gitu aja sampai perlu ajakin aku panas-panas keluar? Rugi deh kemaren facial kalau begini” sahutku tanpa bisa mengurangi level ketus, ya mau bagaimana lagi, namanya juga lagi kesal.
“Kamu kenapa sih, jangan gitu dong. Temennya lagi seneng kok situnya suntuk aja. Jadi, gimana Frey?”
“Apanya yang gimana?”
“Ya menurut kamu gimana, dilanjutin apa engga?”
“Yaelah, lewat whatsapp aja kali kalau nanya begituan doang”
“Kamu kesambit apa sih? Ga enak lewat chatting pengennya sambil ngopi. Udah ah, gimana, kecepetan ngga kalau aku ajakin Ze dinner romantis?”
“Ra, yang lebih ahli masalah cewek tuh kan kamu, masa kamu mau nurunin standar pake nanya segala ke aku?”
“Hahaha, asemm kowe ki, tapi aku beneran serius iki, pengen referensi dari kamu enaknya kemana ya ngajakin anak satu ini. Lama bisa dapetinnya masa cuma di bawa ke angkringan?”
“Ya udah bawa aja ke coto Makasar di Krasak itu…makasih mba” jawabku asal sambil mengambil gelas racikan kopi yang dibawakan waitress dan menggeser nomor meja yang ada, supaya piring berisi beef Lasagna pesananku bisa mendapatkan posisi yang pas.
“Kamu nih ngawur, masa di bawa ke warung” balasnya sambil juga mulai sibuk dengan sandwich dan potato fries miliknya.
“Ya kenapa mesti ribet sih Ra, just be yourself, dia yang bakalan jadi cewekmu kan semestinya juga semestinya juga nyaman dengan kesukaanmu dan paling ngga taulah kemana tempat-tempat favoritmu”
“Gitu ya?” Tara melemparkan pertanyaan retorik dan sekilas nyengir ke arahku.
“Kamu nih ga jelas, tapi selama ni makanan di bayarin aja ya gapapa sih, boleh tambah bungkus bakso di bawah ga ntar pas pulang?” ketusku lagi. Diapun tertawa sambil mengabaikan nada jengah yang kulontarkan padanya.
“Beres, boleh lah itu”
“Lah tumben baik ngga pake perhitungan, biasane medit puol”
“Hahahha dasar kamu, masih ga percaya aja, temenmu yang satu ini kan baiknya tiada terkira hahaha”
“Pret ah, ge.er”
“Lagian Frey, masa kamu ga pengen toh diajakin seneng bareng, ga tau kenapa aku seneng banget sama yang sekarang ini. Pengen aja ditemenin kamu kalau lagi seneng. Kalau aku ajakin pas aku dangdut kan kamu ntar bosen lama-lama. Hahahaha”

Selama dua jam kemudian aku hanya mendengarkan kisahmu dengan Ze ini. Betapa kamu menyukai setiap hal kecil yang dilakukannya sebagai bentuk perhatian, betapa dia sangat kewanitaan tanpa membuatmu merasa risih meskipun terkadang sifat manjanya keluar tetapi malah membuatmu menuruti perkataannya, betapa kamu selalu ingin berada secepat mungkin di sampingnya saat dia membutuhkanmu, betapa kamu bagaikan mendapatkan rejeki nomplok saat Ze memberikan respon positif sekian lama kamu melemparkan jaring-jaring rayuanmu. Dan berbaris-baris betapa-betapa lainnya yang semakin kamu ceritakan dengan ekspresimu yang seperti anak kecil mendapatkan keinginannya semakin membuat dadaku terasa menyempit. Dan seakan aku semakin sebal dengan kelemahanku tidak bisa menolak keinginanmu untuk berbagi kebahagiaanmu. Ya gimana ngga sebel Ra, semua hal yang dilakukan sama Ze sudah pernah aku lakukan bahkan lebih, aku mengenalmu lebih lama, aku selalu ada di sisimu tanpa kamu harus berusaha susah payah.
Tidak pernah kan mau menyadari kalau menyebalkan itu adalah saat dia hanya pernah sekali menjemputmu di bandara tapi kamu merasa itu hal yang hebat sementara sudah berapa kali aku yang jemput kamu bahkan pernah saat kamu dari Jakarta menggunakan bis malam aku harus menjemputmu subuh-subuh di tepi ringroad? Seorang anak gadis menunggu matahari terbit di pinggir jalan hanya untuk menanti anak lelaki yang mungkin tidak menyadari bahwa anak gadis ini yang selalu ada dalam setiap kejadian berarti dalam hidupnya. Hhhhffttt, sudahlah, aku tak akan membiarkan diriku membuat daftar yang lebih panjang lagi mengenai keberadaanku di sampingmu, karena itu akan membuatku semakin kesal dan terus merutuk.

Ting-ting (pesan masuk)
          Tara       : Baru dapet telpon lagi J
          Freya     : Harus ya tiap di telpon sama pacarnya laporan ke aku???
          Tara       : Bukannnlah Freya!
       panggilan wawancara terakhir
          Freya     : Ooohh…selamat yaa
                         Buat kapan?
          Tara       : Besok lusa, besok aku berangkatnya
                         Udah dapet flight pertama, biar malemnya bisa kencan sama Ze dulu :p
          Freya     : wish u luck ya Ra
                         Salam buat Ze
          Tara       : Doain ya Frey
                          I want it much, I do really, really want it
          Freya     : Pastilah
                          Kalau ntar udah dapet gaji gede, jangan lupa mampir kesini ya Ra
          Tara       : Pasti mbokdhe, dah kangen banget karo tengile kowe
Panggilan terakhir yang kamu pintakan juga doa dariku ini Tara, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui akhirnya kamu diterima. Akhirnya impianmu untuk bekerja di ibukota agar dapat lebih dekat dengan Ze (ya, ini hubungan terlama dan terseriusmu dengan seorang wanita, congrats) akan dapat terwujud pula. Kalian semakin mendekat sementara entah kamu sadari atau tidak, aku semakin menjauh darimu. Bukan hanya soal hati, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa hati tak pernah berjarak, but hei itu cuma hatiku. Memang saat ini aku diterima di salah satu perusahaan pertambangan yang besar di Borneo ini, di salah satu kota yang juga memiliki kenyamanannya sendiri. Kebanggaan dan antusiasme yang kamu dan keluarga berikan saat aku mulai menuju kota ini agak sedikit tercemari oleh niatku yang pergi bukan untuk sekedar bekerja menerapkan ilmu membahagiakan orang tua seperti yang dicita-citakan oleh sebagian besar para pencari kerja. Aku hanya ingin jauh darimu, aku bosan menemanimu membagi kebahagiaanmu, meski sesungguhnya aku tak ingin kehilangan cerita tentangmu, tidak ingin tidak menjadi bagian dari kisah hidupmu.

“Mba Freya, baru pulang? kok pulangnya malem terus mba akhir-akhir ini?” sapa Yanies salah seorang teman kosku saat melihatku melintas menuju dapur untuk melihat stok cemilan apa yang masih ada di dalam kulkas.
“Iya, Nies, lagi ada deadline. Ibu managernya akhir minggu ini kudu ke Jakarta, makanya pada di genjot biar beres sebelum dianya berangkat”
“Capek ya mba?”
“Sedikit sih, capeknya ketutup sama bisa gaul bareng orang-orang pinter, tapi stress juga hahahaha” aku tertawa miris  sambil mengambil egg tart yang kubeli 2 hari lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda bau saat kuendus, lumayanlah buat nyemil.
“Ih mba nih, bikin iri mulu, dah pinter, cantik, rajin pula”
“Oke, kamu mau ditraktir apa nih dah muji-muji kaya begitu” aku yang ke-ge-er-an mendekati Yanies yang masih anteng duduk di ruang tv di sebelah dapur. 

Ya itulah kenapa akhirnya pilihanku jatuh di tempat kos ini meskipun jalan masuknya sedikit curam dan agak sepi kalau sudah malam. Selain pemiliknya yang baik dan isi kamar yang sudah lengkap, keadaan kos ini seperti rumah yang lengkap dengan segala isinya bahkan dapurpun ada beberapa lemari kecil dimana para penghuni kos bisa menyimpan perlengkapan masaknya tanpa tercampur yang lain. Meskipun tidak menyediakan seorang pembantu untuk beberes tidak masalah bagiku karena sudah terbiasa juga kos di kota pelajar kesayanganku itu. Lagipula dari 8 penghuninya yang kebanyakan sudah pekerja mereka tampaknya manusia pemerhati kerapian dan salutnya bahkan kamar mandi tidak memerlukan tempelan kertas berisikan bermacam-macam himbauan untuk memperhatikan kebersihan maupun membersihkan sesuai panggilan hati tetapi keadaannya tetap bersih dan wangi. Itulah yang membuatku memilih tempat ini dari awal dan segudang kegiatanku tidak membuatku melalaikan sosialisasi dengan penghuni yang lain meskipun mereka juga tampaknya bukan tipe yang ikut campur urusan orang lain, yah paling tidak bisa merasakan kekeluargaanlah di kota orang. Toh kalau ada apa-apa dengan diriku, semoga tidak, ya mereka duluan yang akan tahu dan bisa kumintai tolong bukan?

“Udah makan mba?” tanya Yanies membuyarkan kekagumanku terhadap tata ruang kosan ini.
“Belum sih, tapi masih kenyang, tadi makan siangnya agak sore” ya bagimana bisa makan siang tepat waktu kalau jam makan siang kami masih terjebak rapat dan makanan prasmanan yang sudah tersedia sebagai konsumsi rapat seakan tidak bisa mengalahkan keseriusan proyek yang sedang berlangsung sekarang ini. Untungnya cemilan yang tersedia bukan cemilan ecek-ecek tapi kelas berat juga, jadi lumayanlah sebagai pengganjal perut.
“Jangan suka telat ah mba, kasian perutnya, tuh mba Erni baru aja kumat penyakit maagnya” tuturnya yang sepertinya tulus mengingat Yanies juga merupakan seorang perawat di rumah sakit terkenal yang posisinya juga tidak terlalu jauh dari kos ini.
“Iya, iya sus, baiklah, nanti kalau ada apa-apa obati saya ya sus” godaku.
“Hahaha mba ini malah becanda. Eh, mba, aku liat di lemari ruang tengah itu kok paketannya masih ada. Belum dibuka?”
“Paket apa?”
“Kayanya buat mba deh, aku sempet lihat sekilas, udah dari kemaren sore loh”
“Oh gitu ya? Coba kulihat” kataku sambil melangkah menuju lemari yang membatasi antara ruang tamu dan ruang tv. Aku melihat ada kotak kecil berukuran setengah folio terbungkus kertas coklat yang memang benar bertuliskan namaku dan kemudian dadaku terasa penuh dengan udara sehingga aku agak kesulitan menarik napas saat melihat nama pengirimnya.
“Iya Nies, bener, buat aku, ke kamar dulu ya, thanks sudah kasih tau. Kalau engga bakalan sampai bulukan disitu terus hehehe” pamitku pada Yanies berusaha tampak wajar.
“Ok mba, sama-sama, aku masih mau nonton dulu” padahal dia sebenarnya memiliki televisi sendiri di dalam kamar, entah kenapa malah lebih senang menonton di televisi umum. Bagiku malah menguntungkan karena kosan jadi tidak terasa sepi.

Sesampainya di kamar kubuka kotak itu yang ternyata di dalamnyapun masih dilapisi lagi dengan kertas kado berwarna hijau. Pasti bukan kamu Ra yang membungkusnya, ada campur tangan wanita yang mungkin tak perlu disebut siapa oknumnya. Kubuka perlahan selotip yang membungkus rapat lapisan kotak itu. Ada sebuah cardigan rajutan dari bahan wool yang sangat lembut berwarna hijau army. Namun bukan itu yang menjadi fokus perhatianku, karena di atas cardigan itu tampak ada foto kalian berdua Ra dan sebuah flashdisk mini berwarna hijau yang disemat dengan rapi agar tidak merusak foto maupun cardigan itu sendiri. Foto kalianpun bernuansa hijau, kalau meminjam istilah teteh Syahrini, terpampang nyata cetar membahana menampakkan senyum dan pose yang tampak mesra. Foto dengan editan tulisan ucapan selamat ulang tahun dan beberapa kalimat pengharapan yang umum diucapkan kepada mereka yang sedang berulang tahun. Norak!!! Jeritku dalam hati.
Bahkan warna favoritku yang tersebar di antara setiap barang kirimanmu tidak dapat menahan air mata ini untuk tidak mengalir membasahi pipi. Entahlah, dia tak ingin berhenti meskipun aku tak menginginkan rasa asinnya terasa di bibirku. Air mataku mungkin hanya ingin membantu meringankan kesesakan hati ini tanpa harus membuat tenggorokan lelah menjerit. Air mata adalah media sederhana yang mampu mengurai pedihku saat ini.

Ulang tahunku sudah lewat dua hari yang lalu dan kamu tidak mengatakan apa-apa tentang paket ini. Kejutan yang norak Ra, sangat norak. Bahkan akupun terkejut sendiri dengan hembusan napasku yang rasanya lebih keras dibandingkan lenguhan sapi sedang kepanasan. Tidak cukup kamu kalian menyiksaku dengan foto kemesraan kalian, masih ada ucapan lain yang kalian berikan lewat flashdisk yang ternyata berisikan video singkat tentang doa-doa kalian untukku. Pernyataan rindu kalian padaku dan lagu ucapan selamat ulang tahun yang dinyanyikan Ze diiringi gitarmu diselingi foto-fotoku di masa lalu saat kita masih ada di kota kenangan itu. Salahkah kalau aku muak? Siapa yang harus kusalahkan atas rasa ini? Tak adil memang kalau aku membenci kalian atas kondisiku saat ini. Ingin aku keluar dari lingkaran ini yang sepertinya tak berujung dan hanya aku pemeran utamanya. Namun kalau aku pergi, aku takut sedihnya kehilanganmu akan lebih perih dibandingkan rasa cemburu ini.
Semilir aku mendengar sudah ada kegiatan yang dilakukan di dapur, otomatis kulirik jam di dinding, tapi kurasakan kelopak mataku berat, tak ingin bekerjasama menuruti perintahku untuk segera terbuka. Lampu masih menyala, laptop masih terbuka di sisi bantalku, foto ucapan kalian masih tergeletak di lantai dan cardigan hijau itu masih tertata rapi di kotaknya belum tersentuh. Kuraba pipiku yang bahkan tanpa menggunakan krim malam masih terasa lembab bekas jejak air mata dan telapak kaki yang terasa dingin karena selimutku masih terlipat di tempatnya tidak terpakai olehku tadi malam. Entah berapa jam aku menangis dan merutuki hal yang kalian rasa baik tetapi pada kenyataannya sangat menyiksaku sampai akhirnya jatuh tertidur. Masih tertinggal rasa sesaknya, yang aku inginkan hanyalah udara segar, bukan di kamar yang saat ini rasanya sedang tidak bersahabat denganku. Untungnya hari Sabtu ini aku tidak perlu lembur lagi. Tuhan masih baik tidak membuatku harus berkutat dengan pekerjaan di tengah kekalutan pikir dan mata sembab.

Kuputuskan untuk pergi ke pantai yang terletak di belakang rumah. Ya, kamu sudah pernah melihatnya dari video call kita, dan kamu sangat iri sampai selalu bersumpah akan menjengukku di kota ini yang tentu saja belum terlaksana sampai saat ini. Mungkin kamu terlalu sibuk dengan Ze-mu, terlalu sibuk menata impian kalian di tengah riuhnya ibukota.
“Mau kemana mba pagi-pagi gini?” ternyata Anin yang sudah sibuk di dapur dengan beberapa bahan masakan tersedia di depannya menunggu untuk diolah.
“Pagi Nin, mau cari seger ke pantai”
“Mba lembur tadi malem?” tanyanya saat aku melintas ingin berbasa-basi melihat masakannya.
“Engga tuh, kenapa?” jawabku sambil balas memandangnya yang tentu saja merupakan langkah salah yang tidak kusadari karena sembabnya mataku semakin jelas tampak olehnya.
“Itu mbak matanya mbendul banget” terangnya dengan logat Jawa Timur yang masih kentara.
“Oh, tadi malem nyelesain serial aja, kan udah lama ga ada kesempatan nonton. Kok kamu pagi-pagi udah masak? Ngga libur?” jawabku sekenanya sambil mengalihkan pembicaraan.
“Hehehe, mau ke pantai mba sama abang nanti siang, mau hemat jadi bawa lauk sendiri”
“Seru dong, ya udah aku ke pantai belakang dulu ya, mumpung masih seger udaranya. Ati-ati ntar weekendannya” pamitku menyudahi basa-basi ini.

Sebenarnya pantai yang kumaksud tidak persis berada di belakang kosan, karena masih membutuhkan waktu sekitar 5 menit melintasi beberapa gang dan sebuah lapangan yang tidak terlalu luas  sebelum menyeberangi kantor polisi sebagai pembatas antara jalan raya dengan restoran-restoran yang ada di pinggir pantai mungil dan bersih ini. Masih sepi, hanya agak jauh di ujung terlihat ada beberapa anak kecil berlarian dan bermain pasir ditemani orang tua mereka. Aku melepas sandal jepitku dan merasakan lembutnya pasir semi putih menenggelamkan telapak kakiku. Batang pohon kelapa yang tumbang tak jauh dari bibir pantai menjadi sasaranku. Kuletakkan pantatku dan kuselonjorkan kaki sambil memandangi batas antara laut dan cakrawala. Menikmati tarian ombak yang digerakkan oleh angin yang sama yang membelai tubuhku. Sesekali dinginnya air laut menyentuh ujung kakiku bila sang angin cukup kuat membawa ombak menuju tempatku duduk saat ini.

Tadi saat berangkat, hanya satu tujuanku ke pantai ini, untuk berteriak sepuas-puasnya setelah semalam hanya bisa menangis dalam diam. Namun entah mengapa saat menikmati pasir, angin, langit, air laut dan sesekali suara burung diselingi canda tawa anak-anak membuatku tidak bergairah lagi mewujudkan teriakan pelepas dahaga itu. Memandang luasnya perpaduan langit dan laut membuatku merasa bebas dan lega seketika, seakan-akan tangisan dan kekesalan yang semalam membuat dada ini sesak tak ada artinya lagi. Bukan salahmu kamu tak pernah menyadari bahwa ada aku yang selalu mengasihimu Ra, memahamimu dengan segala kelemahanmu, mendukungmu dengan segala kelebihanmu dan menunggumu entah sampai kapan. Menunggu yang pasif dan aku lupa bahwa ada sisi yang  tidak bergerak selama aku bertumbuh dan berkembang dalam naungan waktu. Aku menyelesaikan sedikit demi sedikit rencana-rencana hidupku, tapi tidak pernah menyelesaikan tentang kamu dalam hidupku. Entah karena aku terlalu pemalas untuk menjelaskan keberadaan cintaku atau aku terlalu takut kehilanganmu, bila kamu tahu cintaku itu ada.

Salah satu titik, yang entah ada seberapa jauhnya, di bentang garis cakrawala kemudian juga menyadarkanku bahwa garis itu tak pernah ada. Langit dan laut tidak pernah bertemu, meskipun mereka tampak syahdu dan berpadu dengan kompaknya membentuk cakrawala. Laut tidak pernah mampu menghantarkan ombaknya menyentuh langit dan seolah tak lelah menggelorakan semangat bertemu keindahan langit. Sebaliknya langit hanya mampu menghantarkan berkas mentari untuk memberi laut kehangatan semu padahal ia sendirilah yang memiliki dan memeluk mentari. Kisah langit dan laut ini yang paling logis bagiku saat ini, kisah inilah yang mencabut segala resahku tapi tetap meninggalkan pola yang sama ketika aku mulai meraih handphone dan mengirimkan pesan padamu.

Freya       : Makasih kadonya, udah nyampe, niat banget sih buat begituan, ga ada yang lebih     elit lagi apaa??? ;) tx anyway, salam buat Ze, suaranya enak…Happy weekend…
Aku tak mengharapkan balasanmu, karena ini masih pagi dan toh itu hanya ucapan terimakasih sekedar basa-basi, aku masih sopan kan Ra?
Ting-ting (harapanku salah karena pesan balasan darimu sampai dengan seketika).
Tara                 : Lama amat nyampenya, kirain ilang itu paket :D
Freya               : Iya, baru sampe semalem (dengan malas aku memaksa jemari ini mengetik balasan)
Tara                 : Dipake ya, susah loh cari tuh cardigan
Freya               : Duh, maksa, liat ntar deh kalau niat (niatku adalah tak akan pernah memakainya)
Tara                 : Pake pokoknya!!!!!
Freya               : Iya, iya, cerewet, cewe banget sih cerewetnya (agar pembicaraan ini segera selesai)
Tara                 : Good, mau tidur lagi ya, mumpung masih pagi :D sambung ntar, bye
Sentuhan angin kemudian membuaiku kembali untuk menatap langit, mengalihkan mataku dari picture profilemu yang semakin mesra bersama kekasihmu. Aku masih ingin mempertahankan kelegaan ini sambil melihat namamu yang terukir di pasir perlahan menghilang terusap belaian sang ombak.

****6 bulan kemudian****
Tidak banyak yang berubah dari kota ini selain kemacetannya yang bertambah dan aku yang sendiri tanpa ditemani kamu. Disini, di kota ini, di coffee shop di kursi pojok favorit kita, aku kembali lagi. Tidak untuk waktu yang lama, hanya sekedar ditugaskan mengikuti pelatihan dari perusahaan tempatku bekerja. Sebisa mungkin aku memagari diri tidak menyentuh dunia yang ada kamu di dalamnya, tetapi di sisi lain kamu tetap rajin mengabari perkembangan hidupmu. Aku tidak ingin mengganti nomor kontakku ataupun menutup social media dimana kamu tak pernah alpa mengupdate perkembangan cerita cinta kalian. Yup, aku yang tetap sendiri menjagai setiap kenangan tentang kamu, cerita tentang kita. Menghadirkan diriku yang ternyata tidak pernah cukup berani untuk menyatakan perasaanku padamu. Hanya aku yang kuharapkan ada di hidupmu, sejatinya hanya aku yang meretas rasa ini meskipun 2 bulan yang lalu kamu sudah memberikan undangan lamaranmu. Aku masih ingin waras, tentu saja aku tidak datang, dengan alasan akan datang waktu pernikahan saja. Disini hanya ada aku si penggemar rahasiamu yang masih menggumamkan dan mengaku waras saat menikmati rasa ngilu dikala menyenandungkan lagu yang saat ini memenuhi ruang coffee shop :
“I love him
But every day I'm learning
All my life
I've only been pretending
Without me
His world will go on turning
A world that's full of happiness
That I have never known

I love him
I love him
I love him
But only on my own
”
(performed by Samantha Barks, ost. Les Misserables)

Ya, hanya aku sendiri seorang kerdil yang sampai saat ini tidak memiliki keberanian untuk mengungkap rasa.

*Kupersembahkan untuk cinta diam-diamku yang pernah tertinggal di kota Yogyakarta, kota Balikpapan yang menjadi kota cinta diam-diamku karena sampai saat ini belum ada jalan untuk bisa mewujudkannya sebagai kota tempat tinggal sesuai impian sejak 5 tahun yang lalu dan teruntuk mereka yang namanya saya pinjam sebagai tokoh cerita. Selalu ada cinta terselip dalam setiap sudut ingatan yang terbentuk karena kehadiran kalian*

*Batam, Juli 2014*

September 29, 2013

Deren mau dijahit lidahnya, doain segera pulih ya om-tante :)

Namanya Deren, ponakan saya satu-satunya nih :)) 
iya memang baru satu hehehe lagi ngrayu mommy and daddy-nya biar nambah satu lagi.
Sebentar lagi sekitar 13 hari lagi usianya 2 tahun, he's an amazing boy.
*sama-sama Libra kaya budenya :D iya, penting, iyain aja ya*
Dah pinter, cerewet, nggemesin, aktif, suka bikin kesel tapi nyenengin, seru kalau diajak berantem :)) iyah, bude macam apalah saya ini suka berantem sama anak umur 2 tahun :D

Baru pagi ini dapet kabar dari rumah si bocah ganteng jatuh dari kamar mandi, lidahnya robek dan siang ini harus dioperasi, mohon doanya ya, supaya dokternya baik dan komunikatif, semoga indera perasanya baik-baik saja dan semoga cepat pulih.
Tadi sih sebelum operasi waktu masih tunggu dokter di telepon saya masih denger dia teriak-teriak celometan :)) semoga segera ceria kembali ya sayang.
Bude missed you so much, I love youuu...
Ini video yang pernah diunggah di fb, Deren lagi main-main sama Busu burung peliharaan di rumah, umurnya sih udah 20 tahun...semoga cepet guyonan lagi sama Busu ya mas Deren yaaa :))

November 24, 2012

jujur + ngga enak = maaf yang hambar?

"Ya maap, aku ga enak mau jujur, soalnya kan...ya ga enak aja..."
 (from you :24/11/2012)

Percaya atau ngga, akhirnya saya mengalami sendiri kejadian ini XD
Beberapa hari berhubungan dengan kata maaf, akhirnya hari ini saya mendapatkan pesan singkat dari salah seorang rekan yah yang saya pikir cukup berarti bagi saya saat ini, sayangnya tidak untuk dia :) 

setelah penantian panjang akhirnya hanya kata-kata ini yg keluar darinya.
sayapun tidak ingin meneruskan lagi apa yang menjadi maksudnya dan mencoba menerima bahwa selama ini ada beberapa kebohongan yang terjadi dalam hubungan kami.
Hmm, bukan salahnya semata juga, karena saya yang memilih menerima kebohongan itu, dan pada saat diakui ternyata syeediiiiihhh sodara-sodara *aarrrwwrrr

yah ini hanya masalah pilihan bagi sebagian orang ya
tapi sedih tidak bisa dipungkiri pada saat seorang yang kita anggap berarti ternyata pergi membawa luka dan sesal di hati *haishah malah dangdut*
eh iya loh, doi bakalan pergi ke luar jogja dan meninggalkan saya dalam tanda tanya, tapi saya yakin ko ada pembelajaran disini

dalam pertemanan yang menyangkut 2 insan yang berbeda memang susah-susah gampang (lebih banyak susahnya bo dibanding gampangnya)
dan jujur lebih mudah menjalin hubungan dengan sesama alumni psi dibandingkan yang bukan dalam memahami yang namanya individual differences.
Saya sangat suka menjelaskan sesuatu dan detil dan panjang, beliau ini sangat irit dalam menjawab atau menjelaskan sesuatu tapi segalanya harus sesuai dengan keinginannya, nah sulit kan bo?

Yah itu hanya sekilas tentang kami, saya pikir saya menikmati kok hubungan ini
tapiiiii itu pemikiran saya sebelum pesan singkat di hari ini seperti yang tercantum di awal tulisan ini muncull T_T
nggrantes, nangis bombay, mewek, dsb, dll saya lakukan karena saya kecewa
dan punya perasaan bahwa saya menempatkan diri sebagai rekan yang tidak baik
*psssttt, kalau ini ketauan psikolog senior saya pasti diomelin n diingetin lagi bahwa seminim mungkin harus dihindarkan gambaran negatif tentang diri sendiri dan perasaan bersalah karena orang lain atau lingkungan, karena kita itu individu yang berharga, lakukan yang terbaik dan kita tidak bertanggungjawab terhadap kehidupan atau pengambilan keputusan orang lain selama itu orang tersebut sendiri yang memutuskan. siaaappp buuuuw!! 

Bahkan saya baru tahu kalau jujur itu bisa membawa rasa tidak enak bagi dia yang selama ini mengumandangkan kejujuran, huwaaaaa, jadi yg beneran yg mana toh kamu?
dan bagi saya permintaan maafnya terasa hambar (mencomot istilah dari dwymon) karena tanpa penjelasan apa-apa dan tanpa tedeng aling-aling.
percaya ngga, dari bahasa tulisan aja kerasa loh tulus atau engganya niat seseorang.

Pfffftttt..puk-puk my self....memahami itu memang sulit, dan ada yang pernah bilang ke saya (yang ini saya lupa siapa yang pernah bilang :p) kita tidak perlu memahami semua hal, semua ada bagiannya masing-masing.
Yup semua ada bagiannya masing-masing, bahkan emosi negatifpun bisa membuat kita belajar hal yang baru secara positif.  

Kehilangan seseorang yang berarti dengan cara yang kurang elegan itu membuat sedih dan patah hati, tapi kalau itu memang nyaman buatnya, apa boleh buat.
daripada saya nyomel n dibilang drama, saya akan mencoba menerima dan memahaminya.
*heeeeellllppppp >.<

hu.uh T_T
maybe i'm hurting you too....
but still, i don't like your lies

November 19, 2012

"Mentari kembali muncul seiring pagi
Memanggil sang daun untuk tidak beralih ke pelukan bumi
Memberikan rasa panas dan berkas sinar sebagai bukti
Daun mulai percaya dan kembali membuka hati

Namun, sekali lagi ia salah
Panas dan berkas sinar ternyata hanyalah sekedar rasa
Ia mencoba bertahan pada suatu yang tak nyata
Lelah ia mencari siapa yang patut dipersalahkan


Duh Gusti, dengarlah hatinya menjerit
Memohon hilangnya harap pada sang mentari
Meskipun sakit dan lelah, ia hanya ingin mengampuni
Memantapkan hati menuju ketulusan bumi yang selalu menanti"

(18.11.2012, after you gave me hope and then you walked away again with your evil laugh and your devilish heart. But still i believe, there's an angel who's still sleep there in your heart, wait to be awakened)

lupa gambar ini dptnya dari mana :)
tapi bahkan hubungan antar manusia itu
butuh kenyataan, bukan hanya sekedar ide,
yang kemudian berakhir dengan saling menyakiti
teman hayalan itu melelahkan :D

November 17, 2012

Bagi dia, saya itu plin-plan

"Sang daun menari bersama angin yang menghembus,
Ia berusaha memberikan tarian yang terindah,
Meliukkan tubuhnya agar sang mentari semakin memburu,
Ternyata...
Ia salah memilih cara untuk meminimkan rindu

Bagi mentari tariannya adalah ekspresi keplin-planan,
Membuat peraduannya semakin tampak menjauh,
Hanya meninggalkan rasa panas dan berkas sinar" 
(17.11.2012 with tears and lost)


October 15, 2012

lagi tentang GL :) - posisi

Setelah posting saya tentang ultah GL, saya tiba-tiba teringat keheranan yg pernah disampaikan ke saya oleh seseorang yang ada di posisi yang cukup tinggi setelah dia melihat bahwa salah satu manajer GL memulai karirnya mulai dari seorang game tester, kita biasa sebut sebagai quality assurance (qa tester).
Trus kenapa? tanya saya pada saat itu karena bagi saya itu hal yang wajar (studio manager kami juga mengawali dari seorang qa) dan keuntungan lainnya adalah pada saat pernah mengalami bagaimana tekanan seorang saat di posisinya sebagai seorang atasan dia akan lebih tahu bagaimana cara menghandle anggotanya (sisi positif seorang atasan yang tau apa yang dia kerjakan :p).

Dia menjawab : ko mau-maunya jadi qa?? - dan saya : whaaatttt??? hakdeeessshhhh, bisa-bisanya punya pikiran seperti itu??? sombong memang, tapi ya sudahlah, dilihat dari latar belakangnya beliau ini memang masuk ke GL langsung di posisi tinggi dan tidak pernah ada di industri games sebelumnya. Sombongnya ini loh yang ga nguatin >.< cuma sampai sekarang ya saya menyesal tidak memberikan jawaban yang sepantasnya. sudah ilfil duluan bo :( kalau menurut saya, apapun posisinya apapun pekerjaan selama kita menghidupi dan bersyukur pasti akan dapat memberikan yang terbaik dan mendapatkan kepuasan kok. so typical kalau orang masih memandang status dan jabatan, padahal kepuasan kerja itu benar-benar bisa di dapat kalau kita menikmati apa yg kita lakukan, your job is not your career right :D *jadi inget ini lagi, harusnya langsung kukasih ya itu bukunya ke dia, tp sayang ding :p

QA tester adalah khalayak paling ramai yang menghiasi GL (dan bahkan seluruh antero industri games) dan teman paling banyak juga dari mereka :) i love to have a little chit-chat with them, sempet ga cocok dengan cara berpikir kekanak2an dan kengeyelan mereka, tapi semakin kesini individual differences itu semakin tertolerir dan saya sukaaaa dengan kekonyolan mereka bahkan pada saat saya butuh dukungan mereka ada buat saya dengan caranya masing2 :D *jadi kangen msn.an >.<

Yah dari kejadian ini yang saya pelajari dan saya dapatkan adalah jangan pernah underestimate seseorang dari posisinya, semua kerjaan kalau dikerjakan dengan sungguh2 asti jadi berkat. Seorang QA itu butuh kompetensi yang ok juga u/ jadi yg qualified. Yang underestimate pun belum tentu bisa teliti, detail dan punya ketahanan kerja kaya mereka, ya kan? ^_^

dari sini , sama kaya di GL situasi kerjanya lebih casual
kaya di game center padahal itu adalah kerja :D

September 16, 2012

Air Terjun Sri Gethuk & Gua Rancang Kencono - Yogyakarta

keisengan karena agak jenuh mengerjakan tugas yang harusnya saya selesaikan siang ini membuat saya mengarahkan jari membuka folder foto lawas dan akhirnya menemukan kenangan perjalanan ke sebuah desa wisata di Yogyakarta.
Ini adalah desa wisata ke 3 yang pernah saya datangi ya, sebelumnya ada boro dan pindul.
keinginan untuk posting dan edit sana sini akhirnya membuat saya harus lembur malam ini >.< 
tapi tidak apalah, mengobati jenuh juga :D
mari kita mulai pamernya :)

berawal dari ide kakak2 guru sekolah minggu di
pos Adisucipto Yogya untuk mengunjungi salah 1
kakak yang sedang KKN di Gunung Kidul, akhirnya
berbekal niat dan keinginan untuk melepas jenuh,
kami berenam (saya nekat nyetir motor sendiri
loh :D) memutuskan untuk pergi ke desa tersebut.
Ka' Chandra namanya :)
ceritanya ttg desa KKN tersebut yang bikin kami
juga penasaran,kaya apa sih bagus dan serunya??


setelah sekitar 1,5 jam perjalanan dari yogya dan
mengademkan bokong yang penat di rumah KKN,
kamipun memulai petualangan :D tempat pertama
yang kami kunjungi adalah Gua Rancang Kencono
ngga terlalu jauh dari rumah KKNnya +/- 300 m.
untuk dapat menuju ke pusat gua ini kamu harus
melewati sebuah lubang yang kecil, sampai harus
menunduk untuk dapat memasukinya.
setelah melewati lubang kecil tersebut akan didapati
sebuah ruang yang tidak terlalu besar, sekitar 2x2m
disini terdapat sebuah prasasti yang konon para pejuang
membuatnya secara sembunyi2 dan menjadikan tempat
ini sebagai ruang rapat mereka.
Judul dari prasasti tersebut 'Prasetya Kebhinekaan'
Saya sangat salut dengan para pahlawan yang
menggunakan gua ini untuk berjuang, notabene
gua ini sangat sempit dan pengap, saya saja akhirnya
keluar terlebih dahulu (ini kemungkinan faktor lain juga
karena saya tidak terlalu suka dengan tempat sempit :p)
tempat kedua yang kami jelajahi adalah sebuah
mata air yang jaraknya dari gua rancang sekitar 800 m
.
capek ya bo jalannyaaaaaaa >.< masih inget akhirnya
pakai payung sok imut :D panas bangat soalnya.
ya akhirnya sampai juga sih, meskipun tempatnya
ngga seberapa ternyata, tapi biarlah yang punya
desa pamer sama mata airnya :) bahkan para pria
sempat mencoba bergelantungan di akar pohon
beringin yang sudah sangat tua dan besaaarrrrr
sayangnya ngga ada yang mau mencoba kesegaran
mata air ini :p
setelah perjalanan jauh yang melelahkan, mau ngga
mau harus makan dong yaaa :D tempat makan ini
syukurnya ngga perlu ditempuh dengan jalan, tapi
bisa dengan sepeda motor (pingsan bo kalau jalan).
Meskipun lauknya sederhana dengan lele bakar dan
es kelapa muda, nilai plus2nya didapatkan dengan
pemandangan yang kaya di pilem-pilem iniiii, kereeen
akhirnyaaaa ini adalah tujuan utama kamii :D
'Air Terjun Sri Gethuk'
katanya sih itu papan nama yang bikin anak KKN.
untuk menuju air terjunnya kami harus naik sejenis
kapal, sederhana sih, karena cuma dari papan kayu
dan diapungin dengan drum2 plastik dan diberi rangka.
harga tiket masuknya IDR 7000 apa ya (lupa >.<)

kalau inget perjalanan ini jadi kaya yang di film
Anaconda seri yang Black Orchid :D
seru sih, meskipun panas tapi anginnya semilir
daann tampak kerreeennnn :DD
sampai juga di air terjunnya, di tempat pertama ini
ngga perlu pakai pelampung cuma main-main aja di
tempat cetek, cuma ya ati-ati juga sih soalnya licin
sewa pelampunya per pelampung IDR 5000
ini pas lagi booming2nya cherrybell sepertinya :D
kalau kameranya bagusan dikit sebenernya di bagian
kaki air terjun itu ada pelangi baguuuusssss
ya tak papalah, yang penting capture the moment
and have fun with it. Mba Okta dimana ya?
di pinggiran yang jadi tukang potret ajah :D
setelah dari air terjun sebenarnya kami masih menempuh
suatu perjalanan lagi yang heboh, naik gunung, berenang
dan menembus air terjun lainnya, tapi karena kameranya
ngga tahan air akhirnya ya ga ada poto2.
foto di atas ini setelah kami sampai dari perjalanan seru itu
jadi udah selesai sih ceritanya :D cuma masih pengen nampang
percaya ngga kalau foto sebelah kiri itu saya yang mlumpat?
hehehe iyaaa, itu sayaaa, seru sih lompat dari ketinggian
kisaran 5 m apa lebih ya?
untuk pulang kembali ke titik awal kami harus menunggu
kapal yang akan menjemput, tetapi karena kelamaan,
akhirnya dengan sok-sokan kami putuskan untuk berenang
jarak tempuhnya sih kisaran 20 menitan ya (ngga tau tuh
berapa panjangnya). sambil berenang sambil action.
salah satu teman kami yang memutuskan naik kapal
akhirnya memang sampai duluan sih, tapi jadinya adalah
yang mengabadikan kami :p coba kalau dia ikutan renang
ngga ada kan yang poto-potoin :D *teteup
sampailah dengan selamat (meskipun pulangnya saya teler)
ngga pake pulang ke kos tapi mampir di kakiku-galeria mall
(masuk angin boo, pulangnya nyetir juga, ga ada yang ganti :)
tapi seru sih, kapan lagi kesini kan ya?
bahkan salah satu dari kami yang peluk saya itu sekarang
udah berjibaku di negara asalnya Papua :)
-we miss you ka' sary-
oia, untuk tempat mandi dan gantinya, mereka juga sediakan
salah satunya di dekat tempat kami makan sebelumnya.
waktu itu sih gratis, kalau sekarang sepertinya pakai bayar